Bahaya BPA Galon Air Isi Ulang, Ada yang Dipakai Lebih dari 10 Tahun

JurnalLugas.Com Isu keamanan air minum dalam kemasan kembali menjadi perhatian publik setelah Komunitas Konsumen Indonesia (KKI) menyoroti masih maraknya penggunaan galon guna ulang berusia tua di tengah masyarakat. Kondisi ini dinilai berpotensi meningkatkan risiko peluruhan zat kimia Bisphenol A (BPA) ke dalam air minum yang dikonsumsi sehari-hari.

Ketua Komunitas Konsumen Indonesia, David Tobing, mengatakan pihaknya menemukan fakta bahwa mayoritas konsumen masih menerima galon guna ulang yang telah dipakai dalam waktu lama. Menurutnya, kondisi tersebut perlu segera mendapat perhatian regulator karena menyangkut kesehatan masyarakat dalam jangka panjang.

Bacaan Lainnya

“Di lapangan kami masih menemukan galon berusia sangat tua yang terus digunakan. Ini menjadi alarm serius karena risiko peluruhan BPA bisa meningkat seiring usia pakai galon,” ujar David dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu, 9 Mei 2026.

KKI menyebut sebanyak 92 persen konsumen yang mereka pantau masih menerima galon lama atau ganula yang dinilai rentan mengalami degradasi material. Temuan itu diperoleh melalui pemantauan selama tiga tahun terakhir, termasuk survei terhadap ratusan responden dan investigasi langsung di sejumlah agen air minum serta toko kelontong di kawasan Jabodetabek.

Baca Juga  Bahaya Galon Air Isi Ulang BPA untuk Kesehatan, Sebabkan Penyakit Ini, dan Berikut Fakta Ilmiahnya

Tidak hanya itu, kanal pengaduan konsumen yang dibuka sepanjang Maret hingga April 2026 juga menunjukkan tingginya penggunaan galon lama di masyarakat. Dari ratusan laporan yang masuk dari berbagai kota besar, sebagian besar konsumen mengaku masih mengonsumsi air dari galon yang telah digunakan lebih dari satu tahun.

Dalam investigasinya, KKI bahkan menemukan dokumentasi galon produksi tahun 2015 yang masih dipakai untuk distribusi air minum hingga saat ini. Artinya, galon tersebut telah digunakan selama lebih dari satu dekade.

Selain faktor usia pakai, kondisi fisik galon juga menjadi perhatian. Sejumlah konsumen melaporkan galon yang diterima tampak kusam, retak, hingga penyok. Kondisi tersebut dinilai dapat memperbesar potensi kerusakan material polikarbonat yang mengandung BPA.

David menilai persoalan ini tidak hanya berkaitan dengan usia galon, tetapi juga pola distribusi yang masih minim standar keamanan. Banyak galon kosong maupun berisi air diangkut menggunakan kendaraan bak terbuka dan terpapar langsung sinar matahari.

“Paparan panas dan perlakuan distribusi yang tidak tepat dapat mempercepat proses peluruhan zat kimia dari wadah ke air minum,” katanya.

KKI juga menyinggung kebijakan di kawasan Eropa yang telah mengambil langkah lebih ketat terhadap penggunaan BPA. Uni Eropa disebut akan memberlakukan larangan total BPA pada bahan kontak pangan mulai Juli 2026 setelah muncul kajian mengenai dampak paparan kronis zat tersebut terhadap kesehatan.

Baca Juga  Bahaya BPA Galon Air Isi Ulang, Ahli Ungkap Batas Aman Pakai dan Risiko Kesehatan Serius

Sementara di Indonesia, kebijakan yang berlaku masih sebatas kewajiban pelabelan peringatan BPA oleh BPOM dengan masa transisi hingga 2028. Menurut KKI, belum adanya aturan tegas mengenai batas usia pakai galon menjadi celah yang perlu segera diperbaiki.

Pakar polimer dari Universitas Indonesia sebelumnya juga mengingatkan bahwa usia penggunaan galon, paparan sinar matahari, serta proses pencucian yang kasar dapat mempercepat kerusakan material polikarbonat. Karena itu, penggunaan galon dinilai perlu dibatasi agar tetap berada dalam ambang aman.

KKI mendorong pemerintah segera menyusun regulasi yang lebih ketat terkait masa edar galon guna ulang demi melindungi konsumen. Edukasi mengenai pentingnya memperhatikan kondisi fisik dan usia galon juga dinilai perlu diperluas agar masyarakat lebih waspada terhadap kualitas air minum yang dikonsumsi setiap hari.

Baca berita terbaru lainnya di JurnalLugas.Com

(Endarto)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait