JurnalLugas.Com — Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps melontarkan ancaman keras kepada Amerika Serikat terkait konflik di Selat Hormuz. Situasi ini memicu kekhawatiran global terhadap keamanan jalur distribusi minyak dunia yang selama ini menjadi urat nadi perdagangan energi internasional.
Dalam pernyataan resmi yang dipublikasikan melalui platform X pada Sabtu, IRGC menegaskan bahwa setiap tindakan agresif terhadap kapal tanker minyak maupun kapal komersial Iran akan dibalas dengan serangan besar terhadap pusat militer Amerika Serikat di kawasan Teluk serta kapal-kapal yang dianggap sebagai musuh.
Peringatan itu muncul setelah beberapa hari terakhir terjadi ketegangan bersenjata dan manuver militer di sekitar Selat Hormuz. Kawasan tersebut dikenal sebagai jalur strategis perdagangan minyak dunia karena hampir seperlima pasokan minyak global melintasi wilayah itu setiap hari.
Iran sebelumnya memperketat pengawasan di Selat Hormuz sejak akhir Februari lalu. Langkah tersebut diambil setelah Teheran menuduh AS dan Israel melakukan operasi militer gabungan terhadap wilayah Iran. Sebagai respons, Iran melarang kapal-kapal yang memiliki keterkaitan dengan AS dan Israel melintas di jalur perairan strategis tersebut.
Di sisi lain, militer Amerika Serikat dikabarkan memperkuat operasi laut di kawasan Teluk Persia. Beberapa kapal tanker Iran disebut menjadi target pemeriksaan dan intersepsi dalam beberapa hari terakhir. Situasi ini memperbesar risiko bentrokan terbuka antara kedua negara yang selama ini memang memiliki hubungan sangat tegang.
Divisi Dirgantara IRGC juga mengklaim bahwa sistem rudal dan drone milik mereka telah mengunci sejumlah target militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Dalam pernyataannya, IRGC menegaskan pasukannya kini hanya menunggu instruksi untuk melancarkan serangan.
Seorang pejabat IRGC dalam pernyataan singkatnya menegaskan bahwa Iran tidak akan tinggal diam jika jalur perdagangan dan kapal nasional mereka diserang. Menurutnya, setiap aksi militer terhadap Iran akan dibalas dengan kekuatan penuh.
Meningkatnya eskalasi di Selat Hormuz langsung memicu perhatian dunia internasional. Sejumlah analis menilai konflik terbuka antara Iran dan AS dapat mengguncang pasar energi global serta memicu lonjakan harga minyak mentah dunia dalam waktu singkat.
Ketidakstabilan di kawasan Teluk juga dinilai berpotensi mengganggu rantai pasok energi ke berbagai negara Asia dan Eropa yang selama ini bergantung pada distribusi minyak melalui Selat Hormuz.
Pengamat geopolitik menilai situasi saat ini menjadi salah satu ketegangan paling serius dalam beberapa tahun terakhir di Timur Tengah. Dunia internasional kini menanti langkah diplomasi untuk mencegah konflik berubah menjadi perang terbuka berskala besar.
Baca berita lainnya di JurnalLugas.Com
(Dahlan)






