JurnalLugas.Com — Ketegangan diplomatik antara Iran dan Amerika Serikat kembali memasuki babak baru. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa Teheran terbuka untuk mencapai kesepakatan nuklir yang meyakinkan, namun dengan satu garis merah yang tidak dapat dilampaui: pengayaan uranium nol bukan bagian dari perundingan.
Dalam pernyataannya pada Sabtu, 7 Februari 2026, Araghchi menyampaikan bahwa persoalan nuklir Iran hanya dapat diselesaikan melalui jalur dialog dan diplomasi, bukan tekanan militer. Ia menyebut kembalinya Washington ke meja perundingan sebagai sinyal positif, meskipun jalan menuju pemulihan kepercayaan dinilainya masih panjang.
Negosiasi Dinilai Satu-satunya Jalan
Araghchi menilai dialog dengan Amerika Serikat sebagai titik awal yang konstruktif. Menurutnya, pendekatan diplomatik memberikan peluang realistis untuk menyelesaikan sengketa nuklir yang telah berlangsung lebih dari satu dekade.
Ia juga menekankan bahwa Iran siap membangun kepercayaan guna mencapai hasil perundingan yang adil dan saling menguntungkan. Namun, ia menegaskan bahwa hak Iran untuk melakukan pengayaan uranium dijamin secara internasional dan tidak dapat dicabut.
Program Rudal Bukan Agenda Perundingan
Dalam kesempatan yang sama, Araghchi menutup pintu pembahasan terkait program rudal Iran. Ia menyatakan bahwa kemampuan pertahanan negaranya tidak akan dinegosiasikan, baik sekarang maupun di masa depan, karena merupakan bagian dari kedaulatan nasional.
Terkait keamanan kawasan, Iran disebut tidak memiliki niat menyerang negara-negara tetangga. Namun, jika diserang, Teheran akan merespons dengan menargetkan pangkalan militer Amerika Serikat di wilayah regional, bukan wilayah sipil negara lain.
Pengayaan Uranium Tetap Berlanjut
Araghchi kembali menegaskan bahwa tingkat pengayaan uranium sepenuhnya bergantung pada kebutuhan domestik Iran. Ia memastikan bahwa uranium yang diperkaya tidak akan diekspor ke luar negeri dan tetap berada di bawah kendali nasional.
Ia juga menyampaikan bahwa tekanan militer, termasuk serangan udara, tidak berhasil melumpuhkan kemampuan nuklir Iran, seraya menegaskan kesiapan negaranya menghadapi berbagai skenario, termasuk kemungkinan konflik, meski tetap berupaya mencegahnya.
Diplomasi Tak Langsung di Oman
Iran dan Amerika Serikat diketahui kembali melanjutkan diplomasi nuklir secara tidak langsung pada Jumat lalu di Muscat, Oman, setelah ketegangan meningkat akibat ancaman aksi militer dari Presiden AS Donald Trump.
Araghchi menggambarkan pertemuan tersebut sebagai awal yang baik, dengan catatan bahwa proses lanjutan sangat bergantung pada kemampuan kedua pihak mengurangi rasa saling curiga. Meski belum ada tanggal pasti untuk putaran kedua, kedua negara sepakat bahwa pertemuan lanjutan perlu segera digelar.
Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, menyebut perundingan tersebut berlangsung serius dan produktif, serta membantu memperjelas posisi masing-masing pihak sekaligus membuka ruang bagi kemajuan diplomatik ke depan.
Peluang Kesepakatan Masih Terbuka
Meski pembicaraan dilakukan secara tidak langsung dan terbatas pada isu nuklir, Araghchi menilai peluang menuju kesepakatan tetap terbuka. Ia bahkan menyebut kemungkinan terjadinya jabat tangan diplomatik jika proses dialog berjalan positif.
Situasi ini menandai babak penting dalam dinamika geopolitik Timur Tengah, sekaligus menjadi ujian bagi efektivitas diplomasi internasional di tengah bayang-bayang konflik.
Baca berita internasional dan geopolitik terkini lainnya di:
https://JurnalLugas.Com






