JurnalLugas.Com — Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, membuka kemungkinan menjatuhkan sanksi terhadap perusahaan-perusahaan China yang diketahui membeli minyak dari Iran. Pernyataan itu disampaikan usai pertemuannya dengan Presiden China, Xi Jinping, di Beijing selama dua hari terakhir.
Ketegangan terkait perdagangan minyak Iran kembali menjadi sorotan setelah Washington menilai aktivitas tersebut berpotensi melemahkan tekanan internasional terhadap Teheran. Trump menyebut pembahasan mengenai hubungan dagang energi China-Iran menjadi salah satu topik penting dalam pertemuan bilateral dengan Xi Jinping.
“Kami membicarakan persoalan itu secara serius dan keputusan akan dipertimbangkan dalam beberapa hari ke depan,” ujar Trump kepada wartawan, Jumat 15 Mei 2026.
Selain menyinggung kemungkinan sanksi ekonomi, Trump juga melontarkan kritik keras terhadap proposal terbaru Iran dalam pembicaraan lanjutan dengan Amerika Serikat terkait isu nuklir.
Menurut Trump, usulan yang diajukan Teheran dinilai tidak dapat diterima sejak poin awal pembahasannya. Ia menegaskan pemerintahannya tidak akan menyetujui proposal yang dianggap melemahkan posisi Amerika dalam negosiasi internasional.
“Saya langsung melihat bagian awal usulan itu dan saya tidak menyukainya. Itu tidak bisa diterima,” katanya.
Trump kembali menegaskan sikap Washington bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir dalam bentuk apa pun. Pemerintah Amerika, menurut dia, menginginkan jaminan kuat terkait penghentian pengayaan uranium Iran dalam jangka panjang.
Ia juga menyinggung permintaan Iran mengenai moratorium pengayaan uranium selama 20 tahun. Menurut Trump, komitmen tersebut harus benar-benar dipastikan melalui mekanisme pengawasan yang ketat.
Pernyataan keras lainnya muncul saat Trump membahas cadangan uranium yang telah diperkaya Iran. Ia mengatakan Amerika Serikat siap mengambil langkah tegas apabila Teheran tidak menyerahkan cadangan tersebut.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah sendiri masih menjadi perhatian dunia internasional, terutama terkait hubungan Iran dengan negara-negara Barat dan aktivitas perdagangan energinya bersama China.
Di sisi lain, Trump turut menyinggung soal penghentian sementara eskalasi yang disebutnya dilakukan atas permintaan sejumlah negara lain. Ia mengklaim langkah itu diambil sebagai bentuk bantuan diplomatik terhadap Pakistan.
“Kami sebenarnya tidak ingin melakukannya, tetapi ada permintaan dari negara lain sehingga kami menyetujuinya,” ujarnya.
Analis hubungan internasional menilai pernyataan Trump berpotensi memperbesar tekanan terhadap hubungan dagang China dan Iran, khususnya di sektor energi yang selama ini menjadi salah satu jalur penting ekonomi Teheran.
Langkah sanksi baru dari Washington juga diperkirakan dapat memengaruhi stabilitas pasar minyak global jika benar-benar diterapkan terhadap perusahaan-perusahaan asal China.
Baca berita internasional dan geopolitik terbaru lainnya di JurnalLugas.Com
(Handoko)






