JurnalLugas.Com — Ketegangan geopolitik di kawasan Asia Timur kembali mencuat setelah Pemimpin Taiwan, Lai Ching-te, melontarkan peringatan keras terkait potensi dampak regional apabila China daratan mengambil alih Taiwan. Dalam wawancara dengan media Prancis, Lai menilai langkah Beijing terhadap Taiwan bukanlah akhir dari ambisi geopolitik China, melainkan awal dari ancaman yang lebih luas bagi negara-negara di sekitarnya.
Menurut Lai, jika Taiwan jatuh ke tangan China, maka Jepang, Filipina, hingga negara-negara lain di kawasan Indo-Pasifik berpotensi menjadi target berikutnya. Ia menegaskan bahwa ambisi ekspansionis Beijing tidak akan berhenti pada satu wilayah saja. Pernyataan tersebut disampaikan sebagai bentuk peringatan kepada komunitas internasional agar tidak memandang isu Taiwan sebagai konflik lokal semata.
Respons keras pun datang dari Beijing. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, secara terbuka mengecam pernyataan Lai dan menuding pemimpin Taiwan itu sebagai pihak yang memperkeruh stabilitas kawasan. Dalam konferensi pers di Beijing, Lin menegaskan bahwa status Taiwan sebagai bagian dari China merupakan fakta sejarah dan hukum yang tidak dapat diubah.
Lin juga menuding upaya Taiwan untuk mencari dukungan asing sebagai tindakan sia-sia. Ia menyebut langkah tersebut tidak akan menghalangi proses reunifikasi dan justru berisiko memperbesar ketegangan. Beijing kembali menegaskan sikapnya bahwa penyatuan Taiwan adalah kepentingan nasional China, bahkan jika harus ditempuh dengan langkah tegas.
Tekanan China terhadap Taiwan memang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Beijing memandang pulau yang memiliki pemerintahan sendiri itu sebagai provinsi yang memisahkan diri dan harus kembali berada di bawah kendali pusat. Situasi ini menjadikan Selat Taiwan sebagai salah satu titik panas geopolitik paling sensitif di dunia.
Di sisi lain, ketegangan China tidak hanya terfokus pada Taiwan. Hubungan Beijing dengan Jepang turut memanas menyusul pernyataan Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, di parlemen pada November lalu. Kala itu, Takaichi mengisyaratkan bahwa serangan terhadap Taiwan dapat memicu respons dari Pasukan Bela Diri Jepang, sebuah pernyataan yang memicu reaksi keras dari China.
Sementara itu, konflik China dengan Filipina juga terus berlangsung di Laut Cina Selatan. Sengketa wilayah di perairan strategis tersebut kerap memicu insiden bentrokan antara kapal kedua negara. Perselisihan ini memperkuat kekhawatiran bahwa eskalasi konflik di satu titik dapat berdampak domino terhadap stabilitas kawasan Asia-Pasifik.
Peringatan yang disampaikan Lai Ching-te menambah daftar sinyal meningkatnya ketegangan regional. Bagi banyak pengamat, dinamika ini menunjukkan bahwa isu Taiwan bukan hanya soal hubungan lintas selat, tetapi juga menyangkut keseimbangan kekuatan dan keamanan di kawasan yang lebih luas.
Baca berita geopolitik dan internasional lainnya hanya di JurnalLugas.Com
https://www.jurnallugas.com






