Sentinel Gantikan Minuteman III, AS Buka Opsi Tambah Hulu Ledak Nuklir, Trump Pegang Kendali

JurnalLugas.Com — Militer Amerika Serikat (AS) membuka peluang peningkatan daya gempur nuklirnya melalui rudal balistik antarbenua (ICBM) generasi terbaru, Sentinel. Opsi pemasangan beberapa hulu ledak dalam satu rudal kini berada di meja pengambil kebijakan tertinggi di Washington.

Kesiapan tersebut disampaikan oleh Kepala US Strategic Command (STRATCOM), Laksamana Angkatan Laut Rich Correll, dalam pernyataan resminya pada Rabu (25/2). Ia menegaskan bahwa kemampuan teknis untuk memasang lebih dari satu hulu ledak sudah tersedia, namun keputusan akhir berada di tingkat nasional.

Bacaan Lainnya

“Kapabilitas itu ada. Namun, keputusan tersebut merupakan ranah kebijakan nasional dan akan diajukan kepada Presiden,” ujar Correll, merujuk pada kewenangan Donald Trump sebagai pemegang otoritas tertinggi militer AS.

Sentinel Gantikan Minuteman III

Program Sentinel dirancang untuk menggantikan LGM-30 Minuteman III yang telah menjadi tulang punggung arsenal nuklir berbasis darat AS selama beberapa dekade. Jika sesuai jadwal, rudal baru ini akan mulai menggantikan Minuteman III pada dekade 2030-an, dengan uji peluncuran perdana direncanakan pada 2027.

Baca Juga  Hyundai Motor Co. Kenalkan Mobil Listrik Flagship Merek Independen Genesis GV60 Magma dan Neolun di New York AS

Minuteman III pada awal pengembangannya mampu membawa hingga tiga hulu ledak independen. Namun, konfigurasi tersebut kemudian diubah menjadi satu hulu ledak guna mematuhi ketentuan perjanjian pengendalian senjata nuklir New START antara AS dan Rusia.

Langkah pengurangan itu merupakan bagian dari komitmen pembatasan senjata strategis kedua negara adidaya. Kini, dengan dinamika geopolitik global yang semakin kompleks, opsi pengembalian kemampuan multi-hulu ledak kembali mencuat.

Spesifikasi dan Misteri Hulu Ledak Sentinel

Seorang pejabat program Sentinel menolak memerinci jumlah pasti hulu ledak yang dapat dibawa oleh satu rudal. Namun, rencana awal yang dipublikasikan sebelumnya menyebut setiap unit akan dipersenjatai satu hulu ledak tipe W87-1.

W87-1 merupakan pengembangan terbaru dari keluarga hulu ledak nuklir AS dengan sistem keamanan dan akurasi yang ditingkatkan. Meski demikian, potensi konfigurasi multi-hulu ledak akan secara signifikan mengubah kalkulasi strategis dalam doktrin pertahanan nuklir Amerika.

Pengamat pertahanan menilai fleksibilitas desain Sentinel memang membuka ruang adaptasi terhadap perubahan ancaman global, termasuk meningkatnya modernisasi militer oleh negara-negara pesaing.

Biaya Membengkak, Program Tetap Jalan

Di tengah ambisi modernisasi, program Sentinel tak lepas dari sorotan tajam terkait pembengkakan anggaran. Pada awal Juli 2024, Pentagon memastikan proyek tetap dilanjutkan meski biaya melonjak hingga 81 persen dari estimasi awal.

Baca Juga  Anggota Kongres AS Kecam Strategi Keamanan Nasional Trump “Menguntungkan Bisnis, Melemahkan Amerika”

Total anggaran terbaru tercatat mencapai 140,9 miliar dolar AS atau sekitar Rp2.362 triliun. Lonjakan tersebut memicu perdebatan di Kongres dan kalangan analis keamanan terkait efektivitas serta urgensi proyek dalam konteks stabilitas strategis global.

Pemerintah AS menargetkan seluruh modernisasi sistem nuklir berbasis darat rampung pada 2038, dengan operasional awal Sentinel diproyeksikan dimulai sekitar 2030.

Rencana membuka opsi multi-hulu ledak pada Sentinel berpotensi memengaruhi keseimbangan kekuatan nuklir dunia. Jika direalisasikan, kebijakan tersebut bisa memicu respons serupa dari negara-negara berkekuatan nuklir lain dan memperumit upaya pengendalian senjata strategis.

Keputusan akhir kini menunggu arah kebijakan Gedung Putih, yang akan menentukan apakah AS tetap mempertahankan konfigurasi satu hulu ledak sesuai tradisi pasca-New START, atau kembali ke model daya hancur berlipat dalam satu rudal.

Ikuti perkembangan isu pertahanan global dan dinamika geopolitik internasional hanya di JurnalLugas.Com

(SJ)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait