JurnalLugas.Com — Ketegangan di Timur Tengah memasuki babak paling mematikan. Sedikitnya 201 orang dilaporkan tewas dan 747 lainnya mengalami luka-luka akibat serangan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel ke sejumlah wilayah Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026.
Data korban tersebut disampaikan oleh Palang Merah Iran atau IRCS dan dikutip kantor berita Mehr.
“Total korban hingga saat ini mencapai 747 orang luka-luka dan 201 meninggal dunia,” demikian pernyataan resmi IRCS yang dirilis Sabtu.
Serangan Terjadi di 24 Provinsi Iran
Tim penyelamat Iran mencatat serangan terjadi di 24 dari 31 provinsi di seluruh negeri. Skala serangan yang meluas ini memperlihatkan eskalasi militer yang signifikan dan menjadi salah satu insiden paling berdampak dalam beberapa tahun terakhir.
Sumber internal lembaga kemanusiaan itu menyebut dampak serangan tidak hanya menghantam fasilitas militer, tetapi juga memicu kerusakan infrastruktur sipil di sejumlah wilayah terdampak.
Situasi darurat diberlakukan di berbagai titik strategis, sementara rumah sakit di beberapa kota besar dilaporkan bekerja dalam kapasitas maksimal untuk menangani lonjakan korban.
Israel Tetapkan Status Darurat Nasional
Pada Sabtu pagi waktu setempat, Kementerian Pertahanan Israel mengumumkan bahwa mereka telah meluncurkan serangan terhadap Iran dan menetapkan status darurat di seluruh wilayahnya.
Pengumuman tersebut mempertegas keterlibatan langsung Israel dalam operasi militer lintas negara yang memicu respons cepat dari Teheran.
Tak lama berselang, laporan dari kantor berita internasional menyebutkan bahwa Amerika Serikat turut melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran melalui operasi udara dan laut. Informasi itu dikutip dari seorang pejabat AS yang enggan disebutkan namanya.
IRGC Luncurkan Gelombang Serangan Balasan
Sebagai respons, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengonfirmasi peluncuran gelombang pertama serangan roket ke wilayah Israel.
Dalam pernyataan resminya, IRGC menyebut langkah tersebut sebagai “balasan atas agresi rezim Zionis”. Iran dilaporkan menembakkan rudal balistik serta drone tempur ke sejumlah titik strategis di Israel.
Tak hanya itu, serangan balasan juga diarahkan ke beberapa pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Target disebut berada di Qatar, Uni Emirat Arab, serta Arab Saudi.
Ancaman Konflik Regional Meluas
Eskalasi militer tiga negara ini memunculkan kekhawatiran akan meluasnya konflik regional di Timur Tengah. Analis keamanan internasional menilai serangan timbal balik berpotensi memicu keterlibatan negara-negara lain di kawasan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi lanjutan dari Washington maupun Tel Aviv terkait dampak lanjutan operasi militer tersebut. Sementara itu, otoritas Iran terus memperbarui data korban dan memperkuat sistem pertahanan udara di sejumlah wilayah strategis.
Perkembangan situasi masih sangat dinamis dan berpotensi berubah dalam hitungan jam. Dunia internasional kini menyoroti krisis ini sebagai salah satu eskalasi paling serius dalam dinamika geopolitik global tahun 2026.
Ikuti perkembangan berita internasional terkini hanya di https://JurnalLugas.Com
(HD)






