JurnalLugas.Com — Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah Amerika Serikat mulai memanfaatkan pangkalan militer Inggris untuk menjalankan operasi pertahanan khusus yang berkaitan dengan Iran.
Kementerian Pertahanan Inggris pada Sabtu (7/3/2026) mengonfirmasi bahwa fasilitas militer di wilayah Inggris kini digunakan oleh militer Amerika Serikat sebagai bagian dari upaya pencegahan serangan rudal dari Iran.
Seorang pejabat pertahanan Inggris menjelaskan bahwa penggunaan pangkalan tersebut bertujuan untuk melindungi kepentingan sekutu di kawasan. Menurutnya, operasi ini dirancang untuk mengantisipasi potensi serangan yang dapat mengancam keselamatan warga negara Inggris maupun pasukan sekutu di Timur Tengah.
“Pangkalan Inggris digunakan untuk operasi pertahanan khusus guna mencegah serangan rudal Iran yang dapat membahayakan keamanan regional,” kata sumber di kementerian pertahanan.
Jet Tempur Inggris Turut Dikerahkan
Selain memberikan akses pangkalan militer kepada Amerika Serikat, Inggris juga meningkatkan keterlibatan militernya di kawasan. Pemerintah London mengirim sejumlah jet tempur Typhoon dan F-35 untuk mendukung operasi udara di beberapa titik strategis Timur Tengah.
Pesawat tempur tersebut saat ini dilaporkan beroperasi dari pangkalan di Yordania, Qatar, dan Siprus. Inggris juga mengirim helikopter militer Merlin untuk memperkuat dukungan logistik dan pengawasan udara.
Langkah ini menunjukkan meningkatnya kesiapsiagaan militer Inggris di tengah memanasnya konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Protes Besar di Siprus
Di tengah peningkatan aktivitas militer tersebut, ratusan warga Siprus turun ke jalan pada Sabtu untuk memprotes keberadaan pangkalan militer Inggris di negara mereka.
Aksi demonstrasi berlangsung di pusat kota Nicosia. Para pengunjuk rasa membawa berbagai spanduk bernada penolakan terhadap penggunaan wilayah Siprus sebagai basis operasi militer.
Beberapa pesan yang terlihat di lokasi demonstrasi antara lain berbunyi “Siprus bukan landasan peluncuranmu” dan “Pangkalan Inggris keluar.”
Isu ini bahkan mulai memasuki ranah politik dalam negeri Siprus. Presiden Siprus, Nikos Christodoulides, sebelumnya menyatakan bahwa masa depan pangkalan militer Inggris di pulau tersebut dapat menjadi topik pembahasan serius setelah konflik di Timur Tengah mereda.
Konflik Dimulai
Ketegangan terbaru ini bermula pada 28 Februari lalu ketika Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di ibu kota Teheran. Serangan tersebut menyebabkan kerusakan infrastruktur serta korban jiwa di kalangan warga sipil.
Washington dan Tel Aviv pada awalnya menyebut operasi itu sebagai tindakan pencegahan terhadap potensi ancaman dari program nuklir Iran. Namun dalam perkembangan berikutnya, pernyataan dari pejabat kedua negara menunjukkan adanya dorongan untuk perubahan kekuasaan di Iran.
Dalam operasi militer tersebut, Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan tewas pada hari pertama serangan. Pemerintah Iran kemudian menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari.
Iran merespons serangan tersebut dengan meluncurkan serangan balasan ke wilayah Israel serta beberapa fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Rusia Kecam Operasi Militer
Reaksi keras juga datang dari Moskow. Presiden Rusia, Vladimir Putin, menilai pembunuhan pemimpin tertinggi Iran sebagai tindakan yang melanggar hukum internasional.
Pemerintah Rusia melalui Kementerian Luar Negeri menyerukan penghentian segera aksi militer serta meminta semua pihak menahan diri untuk mencegah eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.
Para analis menilai situasi ini berpotensi memicu ketegangan global baru jika tidak segera diredam melalui jalur diplomasi.
Baca berita geopolitik internasional lainnya di:
https://JurnalLugas.Com
(SF)






