JurnalLugas.Con — Ketegangan geopolitik global kembali meningkat setelah militer Amerika Serikat mulai memindahkan ribuan pasukan dan armada lautnya dari kawasan Indo-Pasifik menuju Timur Tengah. Langkah strategis ini diambil seiring berlanjutnya konflik militer antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang kini memasuki pekan ketiga.
Media Amerika melaporkan pada Jumat, 13 Maret 2026, bahwa sedikitnya satu kapal serbu amfibi bersama lebih dari 2.000 personel Marinir telah diperintahkan bergerak dari Jepang menuju wilayah Teluk Persia. Pengerahan ini menandai eskalasi terbaru dalam konflik yang semakin memperluas risiko ketidakstabilan kawasan.
Kapal serbu amfibi USS Tripoli (LHA‑7) yang selama ini bermarkas di Sasebo, Prefektur Nagasaki, Jepang barat daya, menjadi salah satu armada utama yang dikirim. Kapal tersebut diperkirakan tiba di Timur Tengah dalam waktu satu hingga dua minggu ke depan.
Tripoli tidak beroperasi sendiri. Kapal itu bersama dua kapal perang lainnya membentuk kelompok tempur amfibi Marinir yang dikenal sebagai Amphibious Ready Group. Armada ini dirancang untuk operasi militer cepat, termasuk pendaratan pasukan, dukungan udara, hingga operasi tempur laut.
Selain armada laut, Amerika Serikat juga mengerahkan 31st Marine Expeditionary Unit, unit tempur Marinir yang berbasis di Okinawa. Unit ini dikenal sebagai salah satu pasukan reaksi cepat militer AS yang sering diterjunkan dalam operasi krisis global.
Pengerahan tersebut dilakukan ketika konflik antara Washington, Tel Aviv, dan Teheran terus meningkat. Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahkan menyatakan bahwa operasi militer terhadap Iran akan terus ditingkatkan selama diperlukan.
Langkah ini sekaligus memangkas sebagian kekuatan militer Amerika di kawasan Indo-Pasifik, wilayah yang selama ini menjadi fokus strategis Washington dalam menghadapi dinamika keamanan regional.
Situasi semakin sensitif karena Iran dalam beberapa hari terakhir meningkatkan aktivitas militernya di Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang menjadi lintasan sekitar 20 persen perdagangan minyak mentah dunia.
Gangguan terhadap jalur ini berpotensi mengguncang pasar energi global dan memicu lonjakan harga minyak internasional.
Di sisi lain, Washington juga dilaporkan memindahkan sebagian sistem pertahanan rudal dari Korea Selatan ke Timur Tengah. Sistem tersebut sebelumnya ditempatkan untuk menghadapi ancaman dari Korea Utara, namun kini dialihkan guna memperkuat pertahanan terhadap kemungkinan serangan Iran.
Armada Tripoli sendiri dilengkapi dengan jet tempur siluman F‑35B Lightning II, yang memungkinkan kapal tersebut berfungsi sebagai pangkalan udara terapung untuk operasi tempur jarak jauh.
Perpindahan aset militer besar-besaran ini memicu kekhawatiran di kalangan sekutu Amerika di kawasan Indo-Pasifik. Beberapa analis menilai pengurangan kekuatan militer AS di wilayah tersebut dapat membuka celah keamanan baru di tengah dinamika geopolitik Asia.
Saat ditanya wartawan mengenai berapa lama konflik ini akan berlangsung, Trump menjawab singkat bahwa pengerahan pasukan akan berjalan “selama diperlukan”.
Dalam pernyataan terpisah di media sosial, Trump juga mengklaim bahwa militer AS telah menghancurkan sejumlah target militer Iran di Pulau Kharg, yang merupakan pusat utama ekspor minyak mentah Iran.
Namun ia menegaskan bahwa fasilitas minyak utama di pulau tersebut sengaja tidak dihancurkan.
Trump menulis bahwa dirinya memilih untuk tidak merusak infrastruktur energi Iran di wilayah itu. Meski demikian, ia memberi peringatan keras bahwa keputusan tersebut bisa berubah jika Iran mengganggu jalur pelayaran internasional.
Menurutnya, apabila Iran atau pihak lain mencoba menghambat kebebasan navigasi kapal di Selat Hormuz, Amerika Serikat tidak akan ragu mempertimbangkan langkah militer yang lebih keras.
Di tengah meningkatnya ketegangan dan melonjaknya harga minyak global, pemerintah AS juga mengusulkan rencana pengawalan kapal dagang yang melintas di Selat Hormuz menggunakan kapal perang Angkatan Laut Amerika.
Rencana ini bertujuan memastikan jalur perdagangan energi dunia tetap aman dari potensi serangan atau sabotase selama konflik berlangsung.
Sebelum bertolak menuju Florida, Trump mengatakan kepada wartawan bahwa operasi pengawalan kapal tersebut kemungkinan akan segera dilaksanakan dalam waktu dekat, menandai fase baru dalam eskalasi konflik di kawasan Teluk.
Ketegangan yang terus meningkat antara Washington dan Teheran kini menjadi perhatian serius dunia internasional. Jika konflik ini terus melebar, dampaknya tidak hanya dirasakan di Timur Tengah, tetapi juga berpotensi mengguncang stabilitas ekonomi dan keamanan global.
Baca selengkapnya di JurnalLugas.Com.
(WN)






