Trump Frustrasi, Desak China hingga Inggris Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz

JurnalLugas.Com — Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menunjukkan tanda-tanda frustrasi atas eskalasi konflik di Timur Tengah dengan menyerukan negara-negara besar dunia untuk mengirim kapal perang ke Selat Hormuz. Seruan itu disampaikan pada Sabtu, 14 Maret 2026 melalui akun media sosialnya di Truth Social.

Trump meminta sejumlah negara yang selama ini bergantung pada jalur energi di kawasan Teluk untuk ikut menjaga keamanan pelayaran internasional. Ia secara khusus menyebut China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, serta Inggris agar mengerahkan armada militer mereka ke kawasan tersebut.

Bacaan Lainnya

Dalam pernyataannya, Trump menilai negara-negara yang terdampak pembatasan jalur pelayaran di Selat Hormuz seharusnya turut mengambil peran aktif. Ia menegaskan keterlibatan internasional diperlukan agar jalur energi strategis itu tetap terbuka bagi perdagangan global.

“Negara-negara yang terdampak pembatasan artifisial ini seharusnya ikut mengirim kapal mereka ke sana,” tulis Trump dalam unggahannya.

Baca Juga  Krisis Selat Hormuz Masuki Fase Baru, Iran Tak Kembali Seperti Semula

Pernyataan keras itu dinilai mencerminkan tekanan yang dihadapi Washington akibat konflik dengan Iran. Ketegangan yang terus meningkat membuat sekutu Amerika Serikat khawatir terhadap terganggunya pasokan minyak mentah dari kawasan Teluk Persia.

Trump juga menegaskan Amerika Serikat tidak akan menghentikan operasi militernya terhadap Iran. Ia bahkan bersumpah akan terus melakukan serangan terhadap wilayah pesisir Iran serta menargetkan kapal-kapal yang dianggap mengancam keamanan pelayaran internasional.

Menurut Trump, langkah tersebut dilakukan demi memastikan jalur pelayaran global tetap aman dan bebas dari gangguan.

Situasi memanas setelah pada 28 Februari 2026, Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan gabungan ke sejumlah wilayah Iran, termasuk ibu kota Teheran. Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan kerusakan pada infrastruktur penting serta menimbulkan korban jiwa.

Iran kemudian melakukan serangan balasan dengan menargetkan wilayah Israel serta pangkalan militer Amerika Serikat yang berada di berbagai titik di Timur Tengah.

Baca Juga  Iran, AS Gagalkan Kesepakatan di Ujung Penandatanganan

Eskalasi konflik itu memicu blokade de facto di Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi salah satu rute utama pengiriman minyak mentah dan gas LPG dari negara-negara Teluk ke pasar global.

Gangguan terhadap aktivitas pelayaran di kawasan tersebut mulai berdampak pada tingkat ekspor dan produksi energi. Sejumlah analis memperingatkan bahwa krisis di Selat Hormuz berpotensi mengguncang stabilitas pasokan minyak dunia apabila konflik terus berlanjut.

Perkembangan situasi ini juga menimbulkan kekhawatiran baru bagi pasar energi global, mengingat sekitar seperlima perdagangan minyak dunia melewati jalur sempit tersebut.

Baca berita internasional dan nasional lainnya hanya di https://JurnalLugas.Com.

(TT)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait