JurnalLugas.Com — Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Garda Revolusi Iran (IRGC) mengonfirmasi penggunaan rudal balistik Haj Qasem untuk pertama kalinya dalam konflik terbuka melawan Amerika Serikat dan Israel.
Dalam laporan resmi pada Selasa (17/3), IRGC menyebut peluncuran rudal tersebut menjadi bagian dari fase ke-59 operasi militer bertajuk True Promise 4. Operasi ini menyasar sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk, termasuk di Qatar, Kuwait, Bahrain, Uni Emirat Arab, hingga wilayah Kurdistan Irak.
Tak hanya itu, serangan juga dilaporkan menghantam sejumlah kota penting di Israel seperti Tel Aviv, Yerusalem Barat, dan Beit Shemesh.
Media pemerintah Iran, Fars News Agency, melaporkan bahwa rudal Haj Qasem termasuk dalam sistem persenjataan yang digunakan dalam gelombang serangan terbaru tersebut. Ini menandai debut operasional rudal tersebut dalam konflik yang sedang berlangsung.
Spesifikasi dan Kemampuan Rudal Haj Qasem
Rudal Haj Qasem pertama kali diperkenalkan pada 2020 sebagai rudal balistik taktis berbahan bakar padat. Senjata ini diklaim memiliki jangkauan hingga 1.400 kilometer, memungkinkan Iran menjangkau target strategis di kawasan Timur Tengah dengan presisi tinggi.
Seorang pejabat IRGC, dalam keterangan singkatnya, menyebut penggunaan rudal ini sebagai “bagian dari eskalasi terukur untuk merespons agresi musuh,” tanpa merinci jumlah rudal yang diluncurkan.
Konflik Terus Memanas
Eskalasi ini merupakan lanjutan dari konflik besar yang dipicu oleh operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari lalu. Serangan tersebut disebut Iran menewaskan Ali Khamenei serta lebih dari 150 pelajar perempuan di wilayah selatan Iran.
Pemerintah Iran melaporkan korban jiwa akibat serangan tersebut telah melampaui 1.200 orang, dengan lebih dari 17.000 lainnya mengalami luka-luka.
Di sisi lain, pihak Amerika Serikat dan Israel awalnya menyatakan operasi tersebut sebagai langkah preventif terhadap ancaman program nuklir Iran. Namun, dalam perkembangan selanjutnya, pernyataan resmi mengindikasikan tujuan lebih luas, yakni mendorong perubahan rezim di Teheran.
Situasi Kian Tidak Stabil
Penggunaan rudal Haj Qasem dalam konflik aktif menandai fase baru dalam dinamika peperangan di Timur Tengah. Analis militer menilai langkah ini berpotensi memperluas skala konflik dan meningkatkan risiko konfrontasi langsung antar kekuatan besar.
Dengan intensitas serangan yang terus meningkat dan target yang semakin luas, kawasan Timur Tengah kini berada dalam kondisi yang sangat rentan terhadap eskalasi lebih lanjut.
Baca berita terkini lainnya hanya di JurnalLugas.Com
(SF)






