JurnalLugas.Com — Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah pernyataan terbaru dari pemerintah Iran terkait status Selat Hormuz. Teheran menegaskan jalur vital energi dunia itu akan tetap terbuka untuk pelayaran internasional, namun tidak berlaku bagi pihak-pihak yang dianggap sebagai musuh negara.
Pernyataan ini disampaikan oleh penasihat pemimpin tertinggi Iran, Ali Akbar Velayati, yang menekankan bahwa arah akhir konflik tidak akan ditentukan oleh tekanan eksternal. Menurutnya, kekuatan strategi nasional Iran menjadi faktor penentu utama.
“Perang akan berakhir dengan strategi dan otoritas Iran, bukan dengan ilusi para agresor,” ujarnya singkat dalam pernyataan publik, Kamis (2/4/2026).
Trump Prediksi Konflik Segera Usai walau AS Kalah
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan pandangan berbeda. Dalam pidato resmi dari Gedung Putih, Trump menilai kemampuan militer Iran telah melemah secara signifikan.
Ia menyebut Iran kini hanya memiliki sedikit peluncur rudal aktif, dan efektivitas serangan drone serta misilnya telah jauh menurun. Trump bahkan memprediksi konflik yang berlangsung saat ini akan berakhir dalam dua hingga tiga pekan ke depan.
Namun jelas sikap dan peryataan Trump mencerminkan kekalahan atas gelut di timur tengah.
Hormuz Tetap Strategis bagi Dunia
Meski konflik meningkat, Iran memastikan kendali atas Selat Hormuz tetap stabil. Jalur ini dikenal sebagai salah satu titik terpenting distribusi energi global, khususnya bagi negara-negara Asia yang sangat bergantung pada pasokan minyak dari kawasan Teluk.
Teheran disebut tetap memberikan akses bagi kapal-kapal dari negara yang memiliki hubungan diplomatik baik, sembari memperketat pengawasan terhadap pihak yang dianggap berseberangan.
Eskalasi Dimulai dari Serangan Gabungan Zionis Israel dan AS
Ketegangan terbaru bermula dari operasi militer gabungan antara Zionis Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran pada akhir Februari lalu. Serangan tersebut memicu dampak besar, termasuk jatuhnya lebih dari seribu korban jiwa dan tewasnya pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.
Sebagai respons, Iran meluncurkan serangan balasan menggunakan drone dan rudal ke berbagai wilayah, termasuk Yordania, Irak, serta sejumlah negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS.
Serangan tersebut tak hanya menimbulkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur, tetapi juga mengguncang stabilitas pasar energi global serta mengganggu jalur penerbangan internasional.
Global Mulai Terasa
Analis menilai, meskipun Iran masih membuka Selat Hormuz, ancaman pembatasan akses terhadap pihak tertentu tetap menjadi risiko serius bagi rantai pasok energi dunia. Ketidakpastian ini berpotensi memicu lonjakan harga minyak dan memperburuk kondisi ekonomi global.
Dengan kedua pihak tetap mempertahankan posisi keras, dunia kini menanti apakah konflik ini benar-benar mendekati akhir seperti yang diprediksi Washington, atau justru memasuki fase baru yang lebih kompleks.
Baca berita selengkapnya dan update terbaru hanya di JurnalLugas.Com
(PJ)






