Harga Emas Global Ambruk 11,3% Sebulan Konflik Timur Tengah & Sinyal Keras The Fed Bikin Investor Panik

Gold bars sitting over a bar graph. Selective focus. Horizontal composition with copy space. Stock market and finance concept.

JurnalLugas.Com — Harga emas global mencatat penurunan signifikan sepanjang Maret 2026, dengan koreksi mencapai 11,3 persen. Penurunan ini menjadi yang paling dalam sejak krisis keuangan global 2008, mencerminkan tekanan besar dari kombinasi faktor geopolitik dan kebijakan moneter global.

Data per Minggu (5/4/2026) menunjukkan bahwa gejolak di kawasan Timur Tengah menjadi salah satu pemicu utama pelemahan harga logam mulia tersebut. Ketegangan yang meningkat telah memicu lonjakan harga energi, terutama minyak, yang kemudian mendorong tekanan inflasi global.

Bacaan Lainnya

Seorang analis pasar komoditas menyebut, lonjakan harga energi membuat ekspektasi inflasi kembali meningkat. “Situasi ini memperbesar peluang kebijakan moneter ketat oleh Federal Reserve, sehingga menekan daya tarik emas,” ujarnya singkat.

Baca Juga  Harga Emas Dunia Terus Tertekan Ini Imbasnya

Dalam kondisi normal, emas dikenal sebagai aset lindung nilai (safe haven). Namun, dinamika saat ini justru berbalik arah. Kenaikan imbal hasil obligasi AS, yang dipicu oleh lonjakan harga minyak dan kekhawatiran inflasi, membuat investor beralih ke instrumen berbunga.

Selain itu, penguatan dolar AS turut menekan harga emas. Permintaan terhadap mata uang Negeri Paman Sam meningkat seiring ketidakpastian global, menjadikannya alternatif safe haven yang lebih menarik dibandingkan emas.

Pasar keuangan global kini cenderung memperkirakan bahwa Federal Reserve akan menahan suku bunga sepanjang tahun ini. Harapan pemangkasan suku bunga yang sebelumnya sempat menguat kini mulai memudar, mempersempit ruang kenaikan harga emas.

Tekanan tambahan datang dari aksi jual emas oleh sejumlah bank sentral dunia. Langkah ini memperbesar suplai di pasar dan mempercepat tren penurunan harga.

Di sisi lain, konflik geopolitik di Timur Tengah terus menjadi katalis utama volatilitas. Ketegangan memuncak sejak akhir Februari ketika Iran merespons serangan militer Amerika Serikat dan Israel. Salah satu langkah strategis yang diambil adalah penutupan Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak dan gas dunia.

Baca Juga  Harga Emas Antam Naik Tipis Pagi Ini, Investor Diminta Cermati Momentum

Penutupan jalur tersebut langsung mengguncang pasar energi global, mendorong lonjakan harga minyak dan memperparah tekanan inflasi. Dampaknya menjalar cepat ke berbagai instrumen keuangan, termasuk emas.

Analis menilai, selama ketegangan geopolitik masih tinggi dan kebijakan moneter global tetap ketat, harga emas berpotensi tetap berada dalam tekanan. Investor pun disarankan untuk mencermati arah kebijakan bank sentral dan perkembangan konflik global sebelum mengambil keputusan investasi.

Untuk informasi ekonomi dan keuangan terkini lainnya, kunjungi JurnalLugas.Com.

(ED)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait