JurnalLugas.Com — Gelombang kenaikan harga bahan baku plastik dalam beberapa pekan terakhir menjadi ujian berat bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Alih-alih menaikkan harga jual, sebagian besar pelaku usaha justru memilih menahan harga demi menjaga daya beli konsumen, meski harus mengorbankan margin keuntungan.
Menteri Usaha Mikro Kecil dan Menengah, Maman Abdurrahman, mengungkapkan bahwa pihaknya menerima lonjakan laporan dari pelaku UMKM yang terdampak langsung oleh kenaikan harga plastik.
“Pelaku UMKM cenderung mempertahankan harga di pasar. Mereka tidak menaikkan harga jual, tetapi dampaknya margin keuntungan tergerus,” ujarnya dalam keterangan di Jakarta, Kamis (9/4/2026).
Harga Naik, Margin Terpangkas
Kementerian UMKM mencatat, kenaikan harga plastik saat ini berkisar antara 40 hingga 60 persen. Dampaknya tidak kecil banyak pelaku usaha mengalami penurunan omzet hingga 50 persen akibat lonjakan biaya produksi.
Tekanan ini terutama dirasakan sektor makanan dan minuman yang masih sangat bergantung pada kemasan plastik. Data industri menunjukkan, kapasitas produksi plastik dalam negeri ikut tertekan akibat kelangkaan bahan baku.
Gangguan distribusi nafta turunan minyak bumi sebagai bahan utama plastik menjadi salah satu pemicu utama. Situasi diperparah oleh kenaikan harga minyak global yang dipengaruhi konflik di kawasan Timur Tengah.
Rantai Pasok Global Terguncang
Ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku plastik masih cukup tinggi, mencapai 55 persen. Dari jumlah tersebut, sekitar 70 persen distribusi melewati jalur strategis Selat Hormuz wilayah yang kini terdampak ketegangan geopolitik.
Kondisi ini memicu gangguan rantai pasok global yang berimbas langsung pada ketersediaan dan harga bahan baku di dalam negeri.
Di sisi lain, industri kemasan plastik nasional masih mendominasi pasar dengan kontribusi lebih dari 67 persen, menjadikan sektor ini krusial bagi keberlangsungan UMKM.
Strategi Pemerintah, Dari Darurat hingga Transformasi
Menghadapi tekanan tersebut, pemerintah mulai menyiapkan langkah mitigasi jangka pendek dan panjang.
Untuk jangka pendek, pasokan bahan baku dialihkan dari kawasan yang relatif stabil seperti Afrika, India, dan Amerika guna menjaga ketersediaan di dalam negeri.
Sementara itu, strategi jangka panjang difokuskan pada penguatan kemandirian industri melalui diversifikasi bahan baku. Salah satu opsi yang tengah didorong adalah pengembangan bioplastik berbasis sumber daya lokal seperti rumput laut dan singkong.
Selain itu, pemerintah juga mengkaji sejumlah kebijakan pendukung, mulai dari subsidi penggunaan bioplastik, penguatan rumah kemasan bersama, hingga kampanye pengurangan penggunaan plastik.
UMKM di Persimpangan
Situasi ini menempatkan pelaku UMKM pada posisi sulit: mempertahankan harga demi pelanggan atau menaikkan harga demi bertahan. Banyak yang memilih opsi pertama, meski konsekuensinya adalah penurunan keuntungan secara signifikan.
Langkah pemerintah dalam menjaga stabilitas pasokan dan mendorong inovasi bahan baku dinilai menjadi kunci agar sektor UMKM tetap bertahan di tengah tekanan global yang belum mereda.
Baca berita ekonomi dan UMKM terbaru lainnya di https://JurnalLugas.com
(ED)






