Rekening Bayangan Andre Fernando alias The Doctor, Peran Perempuan Aliran Dana Narkoba

JurnalLugas.Com — Upaya membongkar jaringan kejahatan narkotika terus diperluas hingga ke lapisan yang selama ini luput dari sorotan, pemilik rekening penampungan. Bareskrim Polri melalui Direktorat Tindak Pidana Narkoba mengungkap peran dua perempuan yang diduga menjadi simpul penting dalam aliran dana sindikat besar.

Kedua perempuan berinisial DEH dan L ditangkap dalam operasi terpisah pada pertengahan April 2026. Penangkapan ini membuka fakta bahwa jaringan narkoba tidak hanya mengandalkan kurir atau bandar, tetapi juga memanfaatkan masyarakat sipil untuk menyamarkan transaksi keuangan ilegal.

Bacaan Lainnya

Direktur Tindak Pidana Narkoba Eko Hadi Santoso menjelaskan bahwa DEH diamankan di wilayah Tasikmalaya setelah rekening atas namanya teridentifikasi sebagai jalur transaksi jaringan Erwin Iskandar alias Koko Erwin. “Rekening tersebut digunakan sebagai tempat penampungan dana, namun pengendali utamanya bukan yang bersangkutan,” ujarnya.

Dari hasil pemeriksaan, DEH mengaku membuka rekening setelah ditawari imbalan uang oleh seseorang bernama Tisna. Tawaran itu datang saat kondisi ekonomi sedang sulit. Dengan bayaran Rp2 juta, ia bersedia meminjamkan identitasnya untuk pembuatan rekening, tanpa memahami sepenuhnya risiko hukum yang mengintai.

Kasus serupa terjadi pada L, yang ditangkap di Bekasi dua hari setelah penangkapan DEH. Berbeda dengan DEH, keterlibatan L berawal dari lingkaran terdekatnya sendiri. Ia diminta oleh anaknya untuk membuka rekening atas permintaan tetangga, dengan alasan digunakan untuk bisnis pakaian daring.

Namun, penyelidikan menunjukkan rekening tersebut justru diduga terkait jaringan Andre Fernando alias The Doctor salah satu aktor yang tengah diburu aparat dalam pengembangan kasus narkotika berskala besar.

Modus yang terungkap dalam dua kasus ini memperlihatkan pola yang serupa: perekrutan masyarakat dengan iming-iming uang cepat, minim literasi finansial, serta penyalahgunaan kepercayaan sosial. Aparat menilai, praktik ini menjadi strategi sindikat untuk memutus jejak langsung antara bandar dan aliran dana.

“Kami akan terus menelusuri pihak-pihak yang berada di balik pengendalian rekening ini, termasuk aktor intelektual yang merekrut pemilik identitas,” tambah Eko.

Langkah lanjutan yang dilakukan penyidik mencakup pemeriksaan saksi tambahan serta penelusuran aliran dana lintas rekening. Tidak menutup kemungkinan, jumlah rekening penampungan yang digunakan jaringan ini jauh lebih banyak dari yang telah terungkap.

Kasus ini menjadi peringatan serius bagi masyarakat tentang bahaya meminjamkan identitas untuk kepentingan finansial yang tidak jelas. Di tengah tekanan ekonomi, tawaran instan sering kali berujung pada jerat hukum yang tidak ringan.

Lebih dari sekadar penindakan, aparat kini juga dihadapkan pada tantangan edukasi publik agar tidak mudah terjerumus dalam praktik ilegal yang terselubung.

Sementara itu, pengembangan kasus masih terus berjalan untuk membongkar struktur jaringan secara menyeluruh dari perekrut, pengendali rekening, hingga bandar utama.

Baca laporan investigasi lainnya di: https://JurnalLugas.Com

(BW)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait