JurnalLugas.Com – Harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi di Indonesia kembali mengalami tekanan signifikan pada pertengahan April 2026. Kenaikan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, khususnya konflik bersenjata yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, yang berdampak pada lonjakan harga minyak dunia.
Sejumlah produk BBM di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) Pertamina dan BP dilaporkan mengalami penyesuaian harga cukup tajam, terutama pada jenis bahan bakar berkualitas tinggi seperti solar non-subsidi dan bensin RON 98.
Berdasarkan data terbaru Pertamina per Senin, 20 April 2026, beberapa produk BBM nonsubsidi resmi mengalami kenaikan sejak Sabtu (18/4/2026).
Lonjakan Harga BBM Nonsubsidi
Di wilayah Jakarta, berikut daftar harga terbaru BBM yang berlaku di SPBU Pertamina:
- Pertalite: Rp10.000 per liter
- Solar subsidi: Rp6.800 per liter
- Pertamax: Rp12.300 per liter
- Pertamax Turbo: Rp19.400 per liter (naik dari Rp13.100)
- Pertamax Green: Rp12.900 per liter
- Dexlite: Rp23.600 per liter (naik dari Rp14.200)
- Pertamina Dex: Rp23.900 per liter (naik dari Rp14.500)
Kenaikan paling mencolok terjadi pada jenis diesel dan bensin beroktan tinggi yang mengalami lonjakan hampir dua digit dalam waktu singkat.
Tekanan Pasar Energi Global
Pengamat energi menilai lonjakan harga ini tidak terlepas dari gangguan rantai pasok minyak global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Ketegangan yang melibatkan negara-negara besar tersebut disebut langsung memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas distribusi minyak mentah dunia.
“Pasar energi sangat sensitif terhadap konflik geopolitik. Begitu ada eskalasi, harga minyak langsung bereaksi naik,” ujar seorang analis energi nasional.
Sementara itu, pelaku industri transportasi mulai mengkhawatirkan efek lanjutan dari kenaikan ini, terutama pada biaya logistik dan distribusi barang kebutuhan pokok.
Kenaikan BBM nonsubsidi ini diperkirakan akan memberi efek berantai terhadap biaya operasional sektor transportasi, industri, hingga harga barang di tingkat konsumen. Kondisi tersebut berpotensi menambah tekanan inflasi apabila tidak diimbangi stabilisasi harga energi dalam beberapa pekan ke depan.
Pemerintah sendiri sebelumnya telah menegaskan bahwa penyesuaian harga BBM nonsubsidi mengikuti mekanisme pasar internasional, terutama pergerakan harga minyak mentah dunia dan nilai tukar rupiah.
Situasi ini membuat masyarakat perlu lebih cermat dalam mengatur konsumsi bahan bakar di tengah ketidakpastian pasar energi global yang masih fluktuatif.
Kenaikan harga BBM ini menjadi sinyal kuat bahwa dinamika geopolitik dunia masih memiliki dampak langsung terhadap ekonomi Indonesia, khususnya pada sektor energi yang sangat bergantung pada impor minyak mentah.
Baca juga informasi ekonomi dan energi lainnya di:
https://JurnalLugas.Com
(ED)






