JurnalLugas.Com — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai melibatkan lebih banyak perguruan tinggi dalam pengembangannya. Institut Pertanian Bogor atau IPB memastikan akan membangun Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Bogor mulai Mei 2026 untuk mendukung distribusi makanan bergizi bagi pelajar.
Langkah tersebut dinilai menjadi terobosan penting karena kampus tidak hanya berperan sebagai pendukung program pemerintah, tetapi juga ikut membangun sistem pangan lokal yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Rektor IPB, Alim Setiawan Slamet, mengatakan pembangunan dapur MBG tahap pertama ditargetkan mulai berjalan pada Mei. Setelah itu, pengembangan unit berikutnya akan dilanjutkan secara bertahap sesuai kesiapan operasional.
“Insyaallah mulai Mei untuk tahap pertama, lalu berikutnya menyusul,” kata Alim dalam agenda Sinergi Alumni IPB untuk Bangsa di Jakarta.
Dapur MBG Dekat Kampus dan Layani Sekolah Sekitar
SPPG yang dibangun IPB akan berada di wilayah Bogor agar dekat dengan lingkungan kampus dan mudah terhubung dengan sistem pengelolaan pangan serta kegiatan akademik.
Dapur tersebut nantinya akan menyalurkan makanan bergizi ke sejumlah sekolah di sekitar Bogor. Meski demikian, detail teknis terkait jumlah penerima manfaat dan cakupan distribusi masih disiapkan bersama yayasan pengelola.
Menurut Alim, konsep SPPG yang dikembangkan IPB tidak hanya fokus pada produksi makanan, tetapi juga menciptakan rantai pasok berbasis hasil pertanian lokal.
Bahan pangan diupayakan berasal dari petani dan pelaku usaha dalam negeri sehingga program MBG dapat memberi dampak ekonomi langsung bagi masyarakat sekitar.
Kampus Jadi Pusat Inovasi Program MBG
Keterlibatan perguruan tinggi dalam program MBG dinilai membuka peluang lahirnya model pengelolaan pangan modern berbasis riset dan teknologi.
IPB melihat SPPG bukan hanya dapur umum, melainkan laboratorium nyata yang dapat dimanfaatkan mahasiswa dan dosen untuk melakukan pembelajaran serta penelitian secara langsung.
Mahasiswa akan terlibat melalui pembelajaran praktik lapangan atau experiential learning, sedangkan dosen dapat mengembangkan riset terkait keamanan pangan, efisiensi energi dapur, kualitas gizi, hingga pengelolaan limbah makanan.
Selain itu, kampus juga ingin menghadirkan sistem dapur yang ramah lingkungan dengan menerapkan konsep ekonomi sirkular, termasuk pengolahan sampah organik agar lebih berkelanjutan.
IPB Jadi Mitra Strategis Program MBG Nasional
Sejak awal pelaksanaan program MBG, IPB telah dipercaya oleh Kementerian PPN/Bappenas sebagai pusat unggulan atau center of excellence dalam pengembangan pangan bergizi nasional.
Dalam pelaksanaannya, IPB bekerja sama dengan sejumlah kementerian, UNICEF, serta Badan Gizi Nasional.
Kampus juga telah menggelar pelatihan training of trainers (TOT), menyusun modul pelaksanaan MBG, hingga melakukan berbagai kajian ilmiah untuk mendukung efektivitas program makan bergizi gratis.
BGN Dorong Semua Kampus Miliki SPPG
Sementara itu, Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, mendorong perguruan tinggi di Indonesia mulai membangun minimal satu unit SPPG.
Menurut Dadan, keberadaan dapur MBG di kampus bisa menjadi pusat pembelajaran sekaligus penggerak ekonomi pangan nasional.
“Satu SPPG bukan hanya dapur makanan bergizi, tetapi juga pusat kebutuhan pasokan pangan dalam jumlah besar,” ujarnya.
Keterlibatan kampus diyakini dapat memperkuat keberhasilan program MBG sekaligus menciptakan sistem pangan yang lebih mandiri dan berkelanjutan di Indonesia.
Baca berita lainnya di JurnalLugas.Com
(SF)






