JurnalLugas.Com – Badan Gizi Nasional (BGN) mengingatkan seluruh pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) agar tidak bersikap reaktif terhadap berbagai narasi liar yang beredar di media sosial terkait pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, menegaskan bahwa banyak informasi yang viral di internet sering kali tidak sepenuhnya menggambarkan kondisi sebenarnya di lapangan.
Menurutnya, sejumlah isu seperti dugaan temuan benda asing dalam makanan hingga kabar keracunan massal memang sempat menjadi sorotan publik. Namun setelah dilakukan penelusuran mendalam, sebagian kasus ternyata tidak sesuai dengan narasi yang berkembang di media sosial.
“Beberapa kejadian memang terjadi, tetapi sering kali ceritanya berkembang berlebihan bahkan mengarah pada hoaks,” ujar Nanik di Jakarta, Minggu (8/3/2026).
Ia menekankan, alih-alih terpancing isu yang belum tentu benar, pengelola SPPG sebaiknya lebih fokus pada peningkatan kualitas proses pengolahan makanan agar standar keamanan pangan tetap terjaga.
Peran Generasi Muda dalam Program MBG
BGN juga berharap para Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) yang kini menjadi pengawas di SPPG mampu menjalankan peran strategis. Tidak hanya memastikan operasional program berjalan lancar, mereka juga diharapkan memiliki kemampuan komunikasi yang baik untuk menyampaikan informasi yang benar kepada masyarakat.
Hal ini dinilai penting guna menangkal misinformasi yang berpotensi memengaruhi kepercayaan publik terhadap Program Makan Bergizi Gratis.
“Generasi muda yang terlibat harus mampu menjadi jembatan informasi yang akurat sekaligus meluruskan isu yang keliru,” jelasnya.
Beberapa Isu Viral yang Ternyata Tidak Tepat
Nanik juga memaparkan beberapa contoh informasi viral yang akhirnya terbukti tidak sepenuhnya benar.
Salah satunya adalah unggahan di media sosial yang menyebut menu MBG hanya berisi mi instan dan satu buah pisang. Setelah dikonfirmasi kepada pihak SPPG dan sekolah penerima manfaat, menu tersebut ternyata juga dilengkapi lauk ayam.
Kasus lain adalah video yang menyebut adanya penolakan program MBG di MTs 4 dan MAN 8 di wilayah Cilincing, Jakarta Utara. Setelah dilakukan pengecekan, diketahui bahwa sekolah dengan nama tersebut tidak berada di wilayah tersebut.
Selain itu, isu dugaan keracunan di Purworejo, Jawa Tengah, yang sempat dikaitkan dengan program MBG juga ternyata tidak berkaitan dengan program tersebut. Peristiwa itu justru berhubungan dengan makanan dari acara hajatan masyarakat setempat.
Tantangan Pengolahan Makanan Skala Besar
Nanik menjelaskan bahwa penyediaan makanan dalam jumlah besar memang memiliki tantangan tersendiri, terutama dalam menjaga standar kematangan makanan serta kebersihan proses pengolahan.
Ia menilai persoalan yang muncul bukan semata-mata terkait keracunan, tetapi lebih pada aspek tata kelola yang harus terus diperbaiki.
“Masalah yang muncul sering kali berkaitan dengan sistem pengelolaan yang perlu diperkuat,” katanya.
Pentingnya Standar Sanitasi
BGN juga kembali mengingatkan seluruh pengelola dapur MBG untuk mematuhi standar sanitasi makanan secara ketat. Salah satu hal yang ditekankan adalah penggunaan pemanas air dalam proses pencucian ompreng atau wadah makan yang digunakan dalam distribusi makanan.
Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan peralatan makan tetap higienis dan aman digunakan oleh para penerima manfaat program.
Dengan pengawasan yang lebih disiplin serta komunikasi yang transparan kepada masyarakat, BGN optimistis Program Makan Bergizi Gratis dapat terus berjalan efektif dan mendapatkan kepercayaan publik.
Baca juga berita lainnya di https://jurnalluguas.com.
(SF)






