Prabowo MBG Bermanfaat? Buruh Kompak “Tidaaakkk”, Ini Kata Pengamat Politik

JurnalLugas.Com — Momen dialog Presiden Prabowo Subianto dengan kalangan buruh saat peringatan Hari Buruh Internasional di Monas pada 1 Mei 2026 memunculkan perhatian luas di ruang publik. Dalam kesempatan itu, Presiden menanyakan langsung manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG) kepada para pekerja yang hadir, dan dijawab dengan kompak “Tidak” oleh buruh.

Pengamat politik Ujang Komarudin menilai interaksi tersebut menjadi gambaran penting tentang arah komunikasi pemerintah yang mulai membuka ruang dialog lebih dekat dengan masyarakat.

Bacaan Lainnya

Menurutnya, langkah Presiden mendengar respons langsung dari kelompok buruh bukan sekadar simbolis, melainkan bagian dari evaluasi nyata terhadap pelaksanaan program strategis nasional.

“Dialog langsung seperti ini penting karena pemerintah bisa mengetahui bagaimana respons masyarakat di lapangan. Ini menjadi masukan yang sangat berharga dalam memperbaiki kualitas kebijakan publik,” ujar Ujang, Sabtu, 2 Mei 2026.

Direktur eksekutif yang juga dikenal sebagai pendiri komunitas literasi politik itu menilai beragam tanggapan masyarakat terhadap program MBG sebaiknya dipahami secara objektif. Ia menegaskan bahwa kritik maupun aspirasi dari buruh tidak otomatis mencerminkan penolakan terhadap program tersebut.

Baca Juga  Fantastis! MBG Sentuh 61,2 Juta Warga, Pemerintah Gaspol Kejar 82,9 Juta Penerima di 2026

Menurutnya, perjuangan kesejahteraan pekerja dan dukungan terhadap program sosial pemerintah dapat berjalan berdampingan tanpa harus dipertentangkan.

“Isu kesejahteraan buruh dan program makan bergizi gratis sebenarnya bisa saling mendukung. Jadi narasi yang berkembang jangan sampai memecah fokus terhadap tujuan besar program sosial tersebut,” katanya.

Ujang juga menyoroti dampak ekonomi yang mulai terasa dari implementasi MBG di sejumlah daerah. Ia menyebut program itu tidak hanya menyasar kebutuhan gizi anak, tetapi ikut menciptakan efek berantai terhadap sektor ekonomi rakyat.

Program tersebut dinilai mampu meningkatkan penyerapan hasil pertanian lokal, membantu kestabilan harga produk pangan, hingga membuka peluang pasar baru bagi pelaku usaha mikro dan UMKM.

Selain itu, keberadaan MBG juga dianggap membantu mengurangi beban pengeluaran keluarga, terutama masyarakat berpenghasilan rendah yang selama ini rentan terhadap kenaikan harga kebutuhan pokok.

Dalam pandangannya, keberlanjutan program akan memberi kepastian pendapatan bagi petani dan rantai distribusi pangan lokal. Dampak lainnya, aktivitas ekonomi di tingkat daerah berpotensi meningkat seiring bertambahnya kebutuhan bahan baku program.

Baca Juga  Panglima TNI Resmikan 452 SPPG Ratusan Ribu Anak Sekolah Dapat Makan Bergizi Gratis

“Tujuan sosial program ini sangat besar. Efeknya sudah mulai dirasakan petani, pelaku UMKM, hingga masyarakat kecil lainnya. Karena itu pengawasan bersama tetap diperlukan agar manfaatnya benar-benar tepat sasaran,” ungkapnya.

Perbincangan mengenai MBG sendiri masih menjadi salah satu isu yang ramai dibahas publik sejak diluncurkan pemerintah. Selain menyangkut anggaran besar, program ini juga dikaitkan dengan agenda peningkatan kualitas sumber daya manusia dan penguatan ekonomi domestik.

Di sisi lain, keterlibatan masyarakat dalam memberikan kritik maupun masukan dinilai menjadi bagian penting agar kebijakan nasional berjalan efektif dan sesuai kebutuhan di lapangan.

Baca berita nasional dan ekonomi lainnya di JurnalLugas.Com

(SF)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait