JurnalLugas.Com — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang diprediksi melanda sejumlah wilayah Indonesia pada Rabu, 27 Mei 2026. Fenomena atmosfer yang berkembang di berbagai kawasan diperkirakan memicu hujan dengan intensitas ringan hingga lebat yang dapat disertai petir dan hembusan angin kencang.
Kondisi tersebut dipengaruhi oleh terbentuknya daerah konvergensi atau pertemuan massa udara di sejumlah wilayah strategis Indonesia. Pola ini memanjang mulai dari pesisir barat Aceh hingga perairan Bengkulu, kemudian meluas ke Selat Malaka, Selat Karimata, Laut Jawa, perairan selatan Jawa, hingga wilayah Kalimantan Tengah.
Prakirawan BMKG, Sufia Nur, menjelaskan bahwa dinamika atmosfer tersebut mampu meningkatkan pembentukan awan hujan secara signifikan di wilayah yang dilintasi jalur konvergensi.
“Pertumbuhan awan hujan menjadi lebih aktif di sepanjang area konvergensi sehingga berpotensi memicu hujan intensitas sedang hingga lebat,” ujarnya.
BMKG memprediksi beberapa kota besar memiliki potensi tinggi mengalami hujan lebat yang disertai kilat dan angin kencang. Wilayah yang perlu meningkatkan kewaspadaan antara lain Tanjung Pinang, Surabaya, Tanjung Selor, Ternate, serta Manokwari.
Sementara itu, hujan dengan intensitas ringan hingga sedang diperkirakan terjadi di Medan, Bandung, Semarang, Palangkaraya, Mamuju, Kendari, Gorontalo, Ambon, Sorong, Jayapura, hingga Jayawijaya.
Di sisi lain, sejumlah kota besar lainnya diprediksi hanya mengalami kondisi berawan sepanjang hari. Wilayah tersebut meliputi Banda Aceh, Pekanbaru, Padang, Pangkal Pinang, Bandar Lampung, Serang, Yogyakarta, Pontianak, Samarinda, Banjarmasin, Denpasar, Mataram, Kupang, Makassar, dan Nabire.
Tak hanya hujan, BMKG juga menyoroti perubahan pola cuaca di wilayah Sumatera Utara yang mulai memasuki pengaruh Angin Baratan pada pertengahan tahun. Kondisi ini ditandai dengan karakter udara yang lebih kering dan hembusan angin yang cenderung lebih kuat.
Prakirawan BBMKG Wilayah I Medan, Chrinstin Mori, mengatakan fenomena tersebut menyebabkan tutupan awan berkurang pada pagi hingga siang hari sehingga suhu permukaan meningkat lebih cepat.
“Akibatnya suhu udara terasa lebih panas pada siang hari dan ada potensi angin kering cukup kencang di beberapa daerah,” katanya.
BMKG mengimbau masyarakat agar tetap menjaga kondisi tubuh di tengah cuaca yang berubah-ubah. Penggunaan pelindung kulit seperti tabir surya, memperbanyak konsumsi air putih, dan membatasi aktivitas berat di luar ruangan saat siang hari dinilai penting untuk mencegah dehidrasi maupun gangguan kesehatan akibat paparan panas berlebih.
Masyarakat juga diminta terus memantau pembaruan prakiraan cuaca resmi guna mengantisipasi potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir lokal, pohon tumbang, hingga gangguan aktivitas transportasi akibat cuaca ekstrem.
Baca berita menarik lainnya di JurnalLugas.Com
(Catur)






