JurnalLugas.Com — Banyak orang pernah mengalami tubuh berkeringat saat tidur malam hingga pakaian atau seprai terasa lembap ketika bangun pagi. Kondisi ini sering dianggap normal akibat udara panas atau kamar yang kurang nyaman.
Padahal, keringat berlebih di malam hari juga bisa menjadi tanda tubuh sedang mengalami gangguan tertentu.
Dalam dunia kesehatan, kondisi tersebut dikenal sebagai night sweats atau keringat malam berlebihan. Gejalanya tidak hanya membuat tidur terganggu, tetapi juga dapat menurunkan kualitas istirahat sehingga tubuh terasa lelah sepanjang hari.
Fenomena ini bisa dialami siapa saja, baik pria maupun perempuan, terutama ketika pola hidup kurang sehat atau tubuh mengalami perubahan tertentu.
Suhu Ruangan Jadi Pemicu Paling Umum
Penyebab paling sering dari keringat malam adalah suhu kamar yang terlalu panas. Penggunaan selimut tebal, pakaian tidur berbahan panas, hingga ventilasi udara yang buruk membuat tubuh bekerja lebih keras untuk menurunkan suhu.
Selain itu, kebiasaan mengonsumsi makanan pedas, minuman berkafein, atau makan terlalu larut malam juga dapat memicu produksi keringat meningkat ketika tidur.
Seorang praktisi kesehatan tidur menjelaskan bahwa tubuh manusia memiliki sistem alami untuk menjaga kestabilan suhu. Saat suhu tubuh meningkat, kelenjar keringat otomatis aktif untuk membantu proses pendinginan tubuh.
Gangguan Hormon Bisa Memengaruhi Produksi Keringat
Perubahan hormon juga menjadi faktor penting yang sering tidak disadari. Pada perempuan, kondisi ini kerap muncul menjelang menopause akibat perubahan hormon estrogen. Sementara pada sebagian orang, gangguan hormon tiroid dapat membuat metabolisme tubuh meningkat sehingga tubuh lebih mudah berkeringat.
Tidak hanya itu, kadar gula darah yang menurun drastis saat malam hari juga dapat memicu munculnya keringat dingin ketika tidur. Biasanya kondisi tersebut disertai tubuh lemas, gemetar, atau pusing setelah bangun.
Stres dan Kecemasan Turut Berperan
Tekanan pikiran ternyata memiliki pengaruh besar terhadap kondisi tubuh saat tidur. Stres berkepanjangan, kecemasan berlebih, hingga kelelahan mental dapat memicu sistem saraf bekerja lebih aktif sehingga tubuh mengeluarkan keringat lebih banyak.
Di tengah aktivitas yang padat, banyak orang tidak menyadari bahwa kualitas tidur yang buruk dapat memengaruhi kestabilan suhu tubuh. Akibatnya, tubuh menjadi lebih mudah berkeringat di malam hari meski suhu ruangan tidak terlalu panas.
“Tubuh dan pikiran saling terhubung. Ketika stres meningkat, respons tubuh juga ikut berubah,” ujar seorang pengamat kesehatan dalam kajian mengenai pola tidur dan metabolisme tubuh, Kamis 28 Mei 2026.
Jangan Abaikan Jika Disertai Gejala Lain
Meski sering dianggap ringan, keringat malam juga dapat menjadi tanda adanya masalah kesehatan tertentu. Beberapa kondisi infeksi, gangguan paru-paru, diabetes, hingga gangguan sistem imun diketahui dapat memicu tubuh berkeringat berlebihan saat tidur.
Karena itu, kondisi ini tidak boleh diabaikan apabila muncul terus-menerus dan disertai gejala lain seperti:
- Demam berkepanjangan
- Penurunan berat badan tanpa sebab jelas
- Sesak napas
- Batuk dalam waktu lama
- Tubuh mudah lelah
Jika mengalami tanda-tanda tersebut, pemeriksaan medis perlu dilakukan agar penyebab utamanya dapat diketahui lebih cepat.
Cara Mengurangi Keringat Berlebih Saat Tidur
Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk membantu mengurangi keringat malam, antara lain:
- Menjaga suhu kamar tetap sejuk
- Menggunakan pakaian berbahan mudah menyerap keringat
- Menghindari makanan pedas sebelum tidur
- Mengurangi konsumsi kopi dan minuman berkafein di malam hari
- Mengelola stres dengan istirahat cukup dan olahraga ringan
- Menjaga pola tidur yang teratur
Menjaga kesehatan tubuh dan kualitas tidur menjadi langkah penting agar tubuh tetap nyaman saat beristirahat. Keringat malam memang tidak selalu berbahaya, namun mengenali penyebabnya sejak dini dapat membantu mencegah gangguan kesehatan berkembang lebih serius.
Baca informasi kesehatan dan berita menarik lainnya di JurnalLugas.Com
(Wening)






