JurnalLugas.Com – Bank Indonesia (BI) memperkuat strategi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui serangkaian kebijakan moneter yang lebih agresif. Selain menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate menjadi 5,50 persen, bank sentral juga meningkatkan tingkat imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) pada seluruh tenor untuk menarik lebih banyak aliran dana asing ke pasar keuangan domestik.
Langkah tersebut menjadi bagian dari respons BI terhadap dinamika pasar global yang masih dipenuhi ketidakpastian serta meningkatnya kebutuhan menjaga daya saing instrumen investasi Indonesia di mata investor internasional.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menjelaskan bahwa penyesuaian struktur suku bunga SRBI dilakukan melalui mekanisme pasar agar instrumen keuangan Indonesia tetap menawarkan daya tarik yang kompetitif dibandingkan negara-negara lain.
“Penyesuaian dilakukan untuk menjaga daya saing investasi portofolio Indonesia sekaligus mendukung stabilitas pasar keuangan domestik,” ujar Perry, Selasa 09 Juni 2026.
Strategi Baru Tarik Modal Asing
Tidak hanya mengandalkan kenaikan imbal hasil SRBI, BI juga memberikan insentif tambahan berupa penurunan biaya swap lindung nilai (hedging swap) bagi investor asing hingga 10 persen. Kebijakan ini dirancang untuk mengurangi beban biaya yang selama ini ditanggung investor ketika mengelola risiko nilai tukar.
Dengan biaya lindung nilai yang lebih rendah, investor asing diharapkan semakin tertarik menempatkan dana pada instrumen keuangan Indonesia, termasuk SRBI dan Surat Berharga Negara (SBN).
Pelaku pasar menilai kombinasi kenaikan imbal hasil dan insentif hedging dapat meningkatkan daya saing aset rupiah di tengah persaingan ketat antarnegara berkembang dalam memperebutkan arus modal global.
BI Buka Kembali Fasilitas Repo
Untuk menjaga likuiditas perbankan tetap memadai, Bank Indonesia juga mengaktifkan kembali lelang instrumen repurchase agreement (repo) dengan tenor 3, 6, 9, hingga 12 bulan.
Kebijakan ini bertujuan memastikan ketersediaan dana di pasar uang dan sektor perbankan tetap terjaga meskipun kebijakan suku bunga mengalami pengetatan.
Menurut Perry, fasilitas repo akan menjadi instrumen utama dalam pengelolaan likuiditas moneter ke depan. Pendekatan ini dinilai lebih efektif dibandingkan mekanisme pembelian Surat Berharga Negara di pasar sekunder yang selama ini menjadi salah satu pilihan bank sentral.
Operasi Moneter Diperkuat
Bank Indonesia juga meningkatkan intensitas operasi moneter baik dalam rupiah maupun valuta asing. Pada sisi rupiah, lelang SRBI kini dilakukan dua kali dalam sepekan untuk memperkuat pengendalian likuiditas.
Sementara itu, intervensi pasar valas dilakukan melalui berbagai instrumen, mulai dari transaksi spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), hingga Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar internasional.
Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi menjaga stabilitas rupiah di tengah fluktuasi pasar global yang masih dipengaruhi kebijakan suku bunga negara maju dan ketegangan geopolitik internasional.
Sinergi BI dan Pemerintah Diperkuat
Selain kebijakan moneter, koordinasi antara Bank Indonesia dan pemerintah terus diperkuat melalui sinkronisasi kebijakan fiskal dan moneter.
Salah satu fokus utama adalah menjaga pengelolaan kas pemerintah tetap mendukung efektivitas operasi moneter sehingga stabilitas nilai tukar dan pasar keuangan dapat terjaga secara berkelanjutan.
BI meyakini fundamental ekonomi Indonesia masih berada dalam kondisi kuat dengan tingkat ketahanan yang memadai menghadapi tekanan eksternal. Karena itu, sinergi kebijakan dinilai menjadi kunci menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus memperkuat kepercayaan investor.
BI-Rate Naik Dua Kali Beruntun
Keputusan terbaru menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen merupakan kelanjutan dari langkah pengetatan yang telah dimulai pada Mei 2026.
Sebelumnya, BI telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen setelah mempertahankannya di level 4,75 persen sejak September 2025.
Kebijakan tersebut menandai perubahan arah moneter setelah sepanjang 2025 bank sentral melakukan pelonggaran dengan memangkas suku bunga total 125 basis poin untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.
Kini, fokus utama bergeser pada penguatan stabilitas nilai tukar rupiah dan menjaga kepercayaan investor di tengah perubahan lanskap ekonomi global yang semakin dinamis.
Baca berita ekonomi dan bisnis terbaru lainnya di JurnalLugas.Com.
(Endarto)






