JurnalLugas.Com – Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan publik setelah sebuah video yang memperlihatkan banyaknya makanan tersisa dari paket MBG beredar luas di media sosial.
Rekaman berdurasi sekitar 32 detik itu memperlihatkan petugas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tengah membersihkan wadah makanan yang masih menyisakan nasi dan lauk dalam jumlah cukup banyak. Video tersebut disebut direkam di kawasan Pasir Putih, Sawangan, Depok, pada pertengahan Juni 2026.
Dalam video yang viral tersebut, terdengar suara perekam yang menyoroti banyaknya makanan yang tidak dikonsumsi siswa. Kondisi itu memunculkan berbagai tanggapan dari masyarakat, terutama para orang tua yang anaknya menjadi penerima program MBG.
Rasa Makanan Dinilai Kurang Menggugah Selera atau Tidak Enak
Sejumlah orang tua siswa mengungkapkan bahwa anak-anak mereka kerap membawa pulang makanan MBG yang tidak habis dimakan di sekolah.
Salah seorang wali murid mengatakan bahwa berdasarkan cerita anaknya, rasa makanan yang disediakan dinilai kurang sesuai dengan selera anak-anak.
“Anak saya sering bilang makanannya kurang berasa sehingga tidak selalu dihabiskan saat jam makan di sekolah,” ujarnya.
Ia mengaku pernah mencicipi langsung menu yang dibawa pulang dan menilai cita rasanya masih bisa ditingkatkan agar lebih diterima oleh siswa.
Menurutnya, tujuan program MBG sangat baik untuk mendukung pemenuhan gizi anak sekolah. Namun, kualitas rasa perlu menjadi perhatian agar makanan yang telah disiapkan tidak berakhir sebagai limbah.
Kemasan dan Tampilan Dinilai Perlu Dibenahi
Selain soal rasa, beberapa orang tua juga menyoroti aspek penyajian makanan. Mereka menilai tampilan makanan yang dikemas dalam ompreng kurang menarik bagi anak-anak.
Seorang wali murid lainnya menyebut bahwa visual makanan memiliki pengaruh besar terhadap nafsu makan siswa, terutama pada usia sekolah dasar dan menengah.
“Anak-anak biasanya tertarik pada makanan yang terlihat menarik. Kalau tampilannya biasa saja, mereka cenderung kurang bersemangat untuk menghabiskannya,” katanya.
Menurutnya, inovasi dalam penyajian dan variasi menu dapat membantu meningkatkan minat siswa terhadap program MBG.
Usulan Evaluasi Mekanisme Program
Munculnya video viral tersebut juga memunculkan berbagai usulan dari kalangan orang tua. Sebagian berharap pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan MBG, mulai dari kualitas bahan pangan, pengolahan menu, hingga distribusi ke sekolah.
Ada pula yang mengusulkan agar orang tua dilibatkan lebih aktif dalam penyusunan menu agar makanan yang diberikan lebih sesuai dengan kebutuhan dan preferensi anak.
Meski demikian, banyak pihak tetap mendukung keberlanjutan program MBG karena dianggap memiliki tujuan strategis dalam meningkatkan kualitas gizi generasi muda Indonesia.
Pengamat pendidikan dan pemerhati gizi menilai fenomena makanan yang tersisa dalam jumlah besar harus menjadi bahan evaluasi. Program yang bertujuan meningkatkan kesehatan dan konsentrasi belajar siswa akan berjalan optimal apabila makanan yang disediakan benar-benar dikonsumsi.
Evaluasi berkala terhadap kualitas menu, variasi makanan, rasa, serta pola distribusi dinilai menjadi langkah penting untuk memastikan anggaran negara yang dialokasikan dapat memberikan manfaat maksimal bagi peserta didik.
Kasus viral di Depok menjadi pengingat bahwa keberhasilan program makan bergizi tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan makanan, tetapi juga oleh tingkat penerimaan anak-anak sebagai penerima manfaat utama.
Ikuti informasi terbaru dan berita nasional lainnya di JurnalLugas.Com
(Bowo)






