JurnalLugas.Com – Pemerintah Iran mengonfirmasi proses pencairan sebagian aset negara yang selama ini disimpan di Qatar. Presiden Masoud Pezeshkian menyebut dana sekitar 6 miliar dolar AS akan dipindahkan ke Teheran sebagai bagian dari tahap awal pengembalian aset luar negeri Iran.
Pernyataan tersebut disampaikan Pezeshkian pada Senin (29/6/2026) dan menandai perkembangan penting dalam upaya Iran memperoleh kembali dana yang sebelumnya dibatasi aksesnya di luar negeri.
“Sekitar enam miliar dolar AS dari total aset yang tersimpan di Qatar akan mulai dicairkan dan dipindahkan ke negara kami. Proses untuk dana sisanya masih terus diupayakan,” ujar Pezeshkian dalam keterangan resmi yang disampaikan melalui kantor kepresidenan.
Tahap Awal Pengembalian Aset Iran
Sebelumnya, Gubernur Bank Sentral Iran Abdolnaser Hemmati menyatakan bahwa total aset Iran yang akan dibuka aksesnya pada tahap pertama mencapai 12 miliar dolar AS. Dari jumlah tersebut, sekitar separuhnya kini dipastikan mulai dicairkan.
Nilai 6 miliar dolar AS setara lebih dari Rp107 triliun jika menggunakan kurs sekitar Rp17.850 per dolar AS. Dana tersebut diperkirakan akan digunakan untuk mendukung kebutuhan ekonomi domestik dan stabilitas sektor keuangan Iran.
Terkait Kesepakatan Iran-AS
Pencairan aset ini berkaitan dengan perkembangan diplomatik terbaru antara Iran dan Amerika Serikat. Pada 18 Juni lalu, kedua negara menandatangani sebuah memorandum yang mengatur langkah-langkah penghentian konflik militer yang dimulai sejak akhir Februari 2026.
Dokumen tersebut memuat sejumlah komitmen, termasuk jadwal pelonggaran pembatasan terhadap aktivitas pelabuhan Iran serta pemulihan pelayaran di kawasan Selat Hormuz.
Selain itu, Iran menyatakan tidak akan mengembangkan senjata nuklir, sementara pembahasan mengenai program nuklir Teheran akan dilanjutkan melalui perundingan terpisah.
Negosiasi Lanjutan dalam 60 Hari
Kedua pihak dijadwalkan kembali melakukan perundingan dalam waktu 60 hari untuk membahas implementasi kesepakatan dan langkah lanjutan terkait pencabutan sanksi.
Bagi Teheran, pengembalian aset dan pelonggaran sanksi dipandang sebagai faktor penting untuk memperkuat pemulihan ekonomi nasional. Pemerintah Iran berharap negosiasi berikutnya dapat menghasilkan kemajuan yang lebih konkret, terutama dalam membuka akses perdagangan dan sistem keuangan internasional.
Masuknya dana miliaran dolar tersebut diperkirakan memberi ruang lebih besar bagi pemerintah Iran dalam menjaga stabilitas mata uang, memenuhi kebutuhan impor strategis, serta memperkuat cadangan devisa negara.
Meski demikian, para pengamat menilai arah hubungan Iran dan Amerika Serikat masih akan sangat bergantung pada hasil perundingan berikutnya, termasuk pembahasan mengenai sanksi dan isu nuklir yang selama ini menjadi sumber utama ketegangan kedua negara.
Baca berita internasional dan ekonomi terbaru lainnya di JurnalLugas.Com
(Dahlan)






