Mohammad Reza Naqdi Penasihat IRGC Iran Siap Hadapi Perang Panjang dengan AS

JurnalLugas.Com — Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memasuki fase yang mengkhawatirkan.

Iran disebut tidak ingin sekadar mengakhiri konflik, tetapi justru menyiapkan diri menghadapi konfrontasi berkepanjangan jika langkah tersebut dinilai mampu menciptakan efek gentar terhadap pihak yang berpotensi melakukan serangan.

Bacaan Lainnya

Penasihat utama komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC, Mohammad Reza Naqdi, menyampaikan bahwa negaranya harus memiliki kemampuan memberikan konsekuensi serius kepada pihak yang menyerang Iran.

Dalam wawancara dengan PBS, Naqdi pada intinya menyebut perang yang berlangsung lebih lama dapat menjadi bagian dari strategi untuk membangun daya tangkal.

Menurut dia, Iran ingin memastikan setiap negara yang mempertimbangkan serangan memahami bahwa tindakan tersebut akan membawa risiko besar.

Pernyataan itu sekaligus menunjukkan bahwa Teheran masih melihat persoalan keamanan dengan Washington dalam kerangka konfrontasi strategis, bukan sekadar perselisihan diplomatik biasa.

Naqdi juga menilai kemampuan militer Amerika Serikat tidak sebesar yang selama ini diperkirakan Iran. Penilaian tersebut memperlihatkan keyakinan Iran bahwa mereka memiliki kapasitas untuk menghadapi tekanan militer sekaligus mempertahankan posisi dalam konflik yang lebih panjang.

Situasi semakin rumit setelah rangkaian kesepakatan dan perubahan sikap kedua negara dalam beberapa bulan terakhir.

Baca Juga  Iran Siaga Tinggi! Khamenei Instruksi Rahasia Antisipasi Serangan AS-Israel

Iran dan Amerika Serikat sebelumnya dilaporkan menandatangani nota kesepahaman pada 18 Juni untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung sejak 28 Februari. Kesepakatan tersebut sempat membuka peluang bagi penurunan ketegangan antara Teheran dan Washington.

Namun, situasi berubah ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 8 Juli menyatakan bahwa gencatan senjata tersebut tidak lagi berlaku.

Setelah itu, ketegangan kembali meningkat. Iran pada 12 Juli mengumumkan penutupan Selat Hormuz hingga Amerika Serikat menghentikan campur tangannya di kawasan tersebut. Langkah itu diambil setelah terjadinya gelombang serangan balasan terbaru.

Selat Hormuz menjadi salah satu titik paling sensitif dalam konflik tersebut karena jalur perairan ini memiliki posisi strategis bagi lalu lintas energi dunia.

Setiap gangguan berkepanjangan di kawasan tersebut berpotensi memberikan dampak terhadap perdagangan dan pasar energi internasional.

Sehari setelah pengumuman Iran, Trump menyatakan Amerika Serikat akan mengambil peran sebagai penjaga Selat Hormuz. Washington juga kembali memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran sebagai bagian dari tekanan terhadap Teheran.

Trump kemudian mengisyaratkan perubahan pendekatan dalam upaya diplomasi. Pemerintahannya disebut mengurangi intensitas pembicaraan untuk mencapai kesepakatan dengan Iran, sembari meningkatkan tekanan ekonomi dengan harapan kondisi tersebut mendorong Teheran mengubah sikap.

Perkembangan ini membuat ruang diplomasi antara kedua negara semakin sempit. Di satu sisi, Iran menyatakan kesiapan menghadapi konflik yang panjang demi membangun efek gentar.

Baca Juga  Iran Kerahkan “Armada Nyamuk” di Selat Hormuz, AS Mulai Ketar-Ketir

Di sisi lain, Washington terus mengandalkan tekanan ekonomi dan langkah strategis untuk memaksa Teheran membuat konsesi.

Pernyataan Naqdi menjadi sinyal bahwa Iran tidak ingin menunjukkan kelemahan di tengah meningkatnya tekanan Amerika Serikat. Jika sikap tersebut diterjemahkan menjadi kebijakan militer yang lebih agresif, risiko eskalasi di kawasan Timur Tengah dapat kembali meningkat.

Bagi dunia internasional, perkembangan hubungan Iran-AS menjadi perhatian bukan hanya karena menyangkut keamanan kawasan.

Konflik terbuka yang melibatkan dua kekuatan tersebut juga dapat berdampak terhadap jalur perdagangan, harga energi, stabilitas pasar global dan hubungan antarnegara.

Dengan posisi Selat Hormuz yang sangat strategis, setiap keputusan Teheran maupun Washington berpotensi memunculkan konsekuensi yang melampaui kawasan Timur Tengah.

Karena itu, perkembangan komunikasi politik dan militer kedua negara masih akan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan arah situasi geopolitik dalam waktu mendatang.

JurnalLugas.Com menyajikan informasi terkini seputar politik, hukum, ekonomi, internasional, bisnis, dan berbagai peristiwa penting lainnya.
JurnalLugas.Com

(Handoko)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait