JurnalLugas.Com – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat setelah Teheran menuduh Washington melancarkan serangan udara terhadap sejumlah fasilitas militer di wilayahnya.
Pemerintah Iran menegaskan tidak akan tinggal diam dan sedang menyiapkan langkah balasan atas serangan yang diklaim menewaskan personel militernya.
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul laporan dari otoritas Iran yang menyebut sedikitnya tujuh anggota militer gugur, sementara ratusan warga lainnya mengalami luka-luka akibat rentetan serangan yang terjadi pada Rabu.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyebut tindakan tersebut sebagai bentuk agresi yang akan mendapat respons sesuai kepentingan pertahanan nasional.
Meski belum mengungkap bentuk balasan yang akan dilakukan, Iran menegaskan pihaknya siap mengambil langkah tegas.
“Kami akan memberikan respons terhadap tindakan yang dianggap sebagai agresi,” demikian pernyataan singkat pihak militer Iran.
Fasilitas Militer Jadi Sasaran
Media pemerintah Iran melaporkan sedikitnya 13 rudal menghantam sejumlah lokasi strategis militer.
Salah satu titik yang disebut terdampak adalah Barak Brigade Infanteri Mekanisasi ke-388 di wilayah Bampor, Provinsi Sistan dan Baluchestan.
Serangan tersebut disebut mengakibatkan korban jiwa di kalangan personel militer serta memicu kerusakan pada sejumlah fasilitas pertahanan.
Selain korban meninggal, sekitar 260 orang dilaporkan mengalami luka-luka dan mendapat penanganan medis.
Ketegangan Memuncak di Kawasan Teluk
Insiden terbaru ini terjadi setelah meningkatnya aktivitas militer Amerika Serikat di sekitar kawasan Teluk dan Selat Hormuz dalam beberapa hari terakhir.
Wilayah tersebut merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling strategis di dunia sehingga setiap eskalasi keamanan berpotensi memengaruhi stabilitas kawasan maupun pasar global.
Laporan dari Iran menyebut operasi militer Amerika Serikat berlangsung sejak awal pekan dengan sasaran sejumlah titik yang dinilai memiliki nilai strategis.
Pemerintah Iran Sebut Korban Terus Bertambah
Juru Bicara Pemerintah Iran, Fatemeh Mohajerani, mengatakan eskalasi konflik dalam beberapa hari terakhir telah menimbulkan korban yang lebih besar dibanding laporan awal.
“Jumlah korban akibat serangan terus bertambah seiring proses pendataan yang masih berlangsung,” ujarnya.
Pemerintah Iran juga menegaskan akan terus memantau perkembangan situasi keamanan dan berkoordinasi dengan seluruh unsur pertahanan negara.
Sementara itu, hingga laporan ini disusun, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Amerika Serikat mengenai klaim terbaru yang disampaikan Iran terkait serangan tersebut.
Meningkatnya tensi antara kedua negara kembali menjadi perhatian dunia internasional.
Sejumlah pengamat menilai eskalasi lanjutan berpotensi memengaruhi stabilitas keamanan regional, khususnya di kawasan Teluk dan Selat Hormuz yang menjadi jalur penting perdagangan energi dunia.
Ikuti perkembangan berita internasional terbaru hanya di JurnalLugas.Com
(Handoko)






