JurnalLugas.Com — Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan belum mengambil keputusan final terkait kemungkinan pengerahan kekuatan militer ke Iran. Informasi ini disampaikan seorang pejabat senior Gedung Putih yang menegaskan bahwa Washington masih menimbang berbagai skenario di tengah situasi yang terus berkembang.
Menurut pejabat tersebut, Presiden Trump sejauh ini belum mempertimbangkan langkah intervensi militer secara langsung. Namun, ia telah menerima sejumlah laporan dan pengarahan terkait opsi respons, termasuk kemungkinan serangan terbatas, menyusul meningkatnya kekerasan terhadap demonstran di Iran. Seorang sumber AS menyebutkan, presiden “masih mengkaji secara serius setiap alternatif” sebelum menentukan sikap resmi.
Tekanan Politik Meningkat dari Dalam dan Luar Iran
Ketegangan meningkat setelah Reza Pahlavi, putra Shah Iran yang digulingkan pada Revolusi 1979, mengunggah pernyataan video di platform X. Dalam pesannya, Pahlavi menyerukan rakyat Iran untuk turun ke jalan dan mendorong para demonstran agar bersiap mengambil alih titik-titik strategis. Seruan ini dinilai memperkuat gelombang protes yang sudah berlangsung sejak akhir Desember 2025.
Aksi unjuk rasa pecah di berbagai kota besar Iran dipicu keresahan ekonomi, terutama melonjaknya inflasi akibat anjloknya nilai tukar rial. Kondisi tersebut berdampak langsung pada kenaikan harga kebutuhan pokok di tingkat grosir dan ritel, memicu kemarahan publik.
Dampak Ekonomi dan Pergantian Pejabat Bank Sentral
Krisis ekonomi turut menyeret pucuk pimpinan Bank Sentral Iran. Gubernur Mohammad-Reza Farzin mengundurkan diri di tengah tekanan publik, lalu posisinya digantikan oleh Abdolnaser Hemmati. Pergantian ini dipandang sebagai upaya pemerintah meredam ketidakpuasan, meski gelombang protes belum menunjukkan tanda mereda.
Sejak Kamis lalu, intensitas demonstrasi meningkat signifikan, terutama setelah seruan Pahlavi beredar luas di media sosial. Sejumlah rekaman video memperlihatkan massa dalam jumlah besar memadati jalan-jalan utama, dengan slogan-slogan keras yang mengkritik pemerintah.
Internet Terganggu, Bentrokan Tak Terhindarkan
Di hari yang sama, akses internet di beberapa wilayah Iran dilaporkan mengalami gangguan. Langkah ini dinilai sebagai upaya membatasi arus informasi di tengah situasi genting. Di sejumlah kota, aksi protes berubah menjadi bentrokan terbuka antara demonstran dan aparat keamanan.
Laporan awal menyebutkan adanya korban jiwa dari kedua belah pihak, baik dari unsur pasukan keamanan maupun warga sipil. Hingga kini, otoritas Iran belum merilis data resmi terkait jumlah korban.
Sikap Washington Masih Menunggu
Di tengah eskalasi tersebut, Gedung Putih menegaskan bahwa Presiden Trump belum mengunci keputusan apa pun terkait Iran. Seorang pejabat menyatakan secara singkat bahwa “semua opsi masih berada di meja,” namun pendekatan diplomatik tetap menjadi pertimbangan utama sebelum langkah yang lebih keras diambil.
Perkembangan situasi di Iran dan respons Amerika Serikat diperkirakan akan terus menjadi sorotan global, mengingat dampaknya terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah dan ekonomi dunia.
Baca berita dan analisis politik internasional lainnya di JurnalLugas.Com






