JurnalLugas.Com – Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali menjadi perhatian dunia setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan negaranya tidak akan membiarkan Iran memungut biaya dari kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi paling strategis di dunia.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump saat menjawab pertanyaan wartawan mengenai kemungkinan dibukanya kembali akses pelayaran bebas di Selat Hormuz.
Menurutnya, Amerika Serikat tidak akan memberikan ruang bagi Iran untuk menerapkan pungutan terhadap kapal yang melintas di jalur tersebut.
“Kami tidak akan membiarkan itu terjadi. Jika ada yang memungut biaya, maka Amerika Serikat yang akan melakukannya,” ujar Trump dalam keterangannya, Senin 03 Agustus 2026.
Ucapan itu mempertegas sikap Washington yang ingin mempertahankan pengaruhnya terhadap keamanan jalur pelayaran internasional di Teluk Persia.
Selat Hormuz selama ini menjadi jalur vital distribusi minyak mentah dan gas alam dari negara-negara produsen di kawasan Timur Tengah menuju pasar global.
Pernyataan terbaru Trump muncul setelah hubungan Amerika Serikat dan Iran kembali memburuk meski kedua negara sebelumnya sempat menandatangani nota kesepahaman untuk mengakhiri konflik yang berlangsung sejak akhir Februari 2026.
Situasi berubah ketika Trump pada awal Juli menyatakan kesepakatan gencatan senjata tidak lagi berlaku. Setelah itu, militer Amerika Serikat melalui Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) melancarkan sejumlah operasi militer terhadap sasaran di Iran.
Washington menyebut operasi tersebut sebagai respons atas tindakan Iran yang dinilai mengganggu keamanan kapal-kapal niaga di Selat Hormuz.
Di sisi lain, Teheran membalas dengan melancarkan serangan ke sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Konflik semakin meningkat ketika Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz hingga Amerika Serikat menghentikan campur tangannya di kawasan.
Langkah itu memicu kekhawatiran pasar internasional karena jalur tersebut menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi dunia.
Sehari setelah pengumuman tersebut, Trump menyatakan Amerika Serikat siap menjadi pihak yang menjaga keamanan Selat Hormuz.
Bersamaan dengan itu, Washington juga mengumumkan kembali kebijakan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran sebagai bagian dari tekanan terhadap Teheran.
Pengamat hubungan internasional menilai pernyataan Trump menunjukkan persaingan pengaruh antara Washington dan Teheran masih jauh dari selesai.
Selain berdampak pada stabilitas keamanan kawasan, setiap perkembangan di Selat Hormuz juga berpotensi memengaruhi harga minyak dunia, biaya logistik internasional, hingga kondisi pasar keuangan global.
“Selat Hormuz bukan sekadar jalur pelayaran regional, tetapi memiliki arti strategis bagi perdagangan energi dunia sehingga setiap eskalasi akan menjadi perhatian banyak negara,” ujar seorang analis geopolitik.
Pelaku pasar kini terus mencermati langkah lanjutan kedua negara. Dunia internasional berharap ketegangan tidak berkembang menjadi konflik yang lebih luas karena dapat mengganggu stabilitas ekonomi global dan rantai pasok energi internasional.
Ikuti perkembangan berita internasional, geopolitik, dan ekonomi global terbaru hanya di https://JurnalLugas.Com.
(Handoko)






