JurnalLugas.Com — Kelompok Houthi kembali mengklaim melancarkan serangan ke wilayah Arab Saudi. Pada Jumat, 14 Agustus 2026, kelompok yang berbasis di Yaman itu menyebut sebuah drone telah diarahkan ke fasilitas perusahaan minyak nasional Saudi Aramco di Najran, wilayah selatan Arab Saudi.
Klaim tersebut menambah daftar serangan yang belakangan dikaitkan dengan Houthi terhadap fasilitas energi dan infrastruktur strategis Saudi.
Namun hingga kini belum ada konfirmasi independen mengenai dampak serangan maupun kepastian apakah drone tersebut benar-benar mengenai sasaran.
Kantor berita Saba yang dikelola Houthi melaporkan bahwa drone menyasar fasilitas yang disebut sebagai “Aramco Najran”. Sumber militer dari kelompok tersebut mengklaim serangan berhasil mencapai target.
Houthi menyatakan aksi itu dilakukan sebagai respons terhadap serangan udara Arab Saudi yang disebut menyasar wilayah Provinsi Saada di Yaman utara. Daerah tersebut merupakan salah satu basis penting kelompok Houthi dan berada tidak jauh dari perbatasan Saudi.
Dalam laporan tersebut, pihak Houthi menggambarkan serangan drone sebagai tindakan balasan. Namun, pemerintah Arab Saudi belum memberikan pernyataan resmi mengenai klaim tersebut.
Belum diketahui pula apakah terdapat korban jiwa, kerusakan fasilitas, atau gangguan terhadap aktivitas energi di Najran.
Situasi ini menjadi perhatian karena hubungan antara Houthi dan Arab Saudi kembali memasuki fase yang lebih tegang.
Serangkaian klaim serangan dalam beberapa pekan terakhir menunjukkan bahwa fasilitas energi dan jalur pelayaran kembali menjadi bagian penting dari konflik yang berlangsung di kawasan tersebut.
Pada 20 Juli lalu, Houthi menyatakan memberlakukan larangan pelayaran terhadap kapal-kapal yang terkait dengan Arab Saudi.
Kelompok tersebut mengaitkan kebijakan itu dengan tuduhan adanya blokade Saudi terhadap wilayah yang berada di bawah kendali mereka.
Riyadh menolak tuduhan tersebut. Setelah pengumuman itu, Houthi kembali melaporkan sejumlah serangan yang diklaim menyasar kapal tanker, fasilitas energi, hingga bandara di wilayah Arab Saudi.
Di sisi lain, konflik internal Yaman juga belum benar-benar menemukan penyelesaian permanen. Houthi menguasai Sanaa dan sebagian besar wilayah Yaman utara sejak akhir 2014.
Perkembangan tersebut kemudian mendorong koalisi yang dipimpin Arab Saudi melakukan intervensi militer pada tahun berikutnya untuk mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.
Perang yang berkepanjangan membuat Yaman menghadapi salah satu krisis kemanusiaan paling berat di kawasan.
Upaya penghentian konflik sempat menghasilkan perkembangan positif ketika gencatan senjata yang dimediasi Perserikatan Bangsa-Bangsa mulai berlaku pada April 2022.
Gencatan senjata tersebut tidak diperpanjang secara resmi setelah enam bulan. Meski demikian, tingkat kekerasan secara umum sempat menurun dan kondisi relatif tenang bertahan dalam bentuk gencatan senjata de facto.
Eskalasi terbaru menunjukkan situasi tersebut kembali rapuh. Serangan yang diklaim Houthi terhadap target di Arab Saudi berpotensi meningkatkan ketegangan, terutama apabila aksi serupa berlanjut dan menyasar infrastruktur energi atau jalur perdagangan.
Untuk saat ini, informasi mengenai serangan drone di Najran masih bersumber dari klaim pihak Houthi. Tidak adanya konfirmasi dari otoritas Arab Saudi membuat rincian mengenai target, tingkat kerusakan, dan kemungkinan korban masih belum dapat dipastikan.
Perkembangan berikutnya akan sangat bergantung pada respons Riyadh serta apakah Houthi kembali melancarkan serangan terhadap wilayah Arab Saudi.
Jika eskalasi berlanjut, dampaknya bukan hanya menyangkut konflik kedua pihak, tetapi juga dapat meningkatkan risiko terhadap keamanan energi dan pelayaran di kawasan.
Simak perkembangan berita internasional dan kabar terbaru lainnya hanya di JurnalLugas.Com.
JurnalLugas.Com
(Handoko)






