JurnalLugas.Com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengambil langkah baru terkait latihan militer gabungan Washington dan Seoul.
Trump meminta Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengurangi secara signifikan skala latihan militer bersama Korea Selatan yang selama ini menjadi bagian dari kerja sama pertahanan kedua negara.
Perintah tersebut disampaikan Trump pada Minggu, 16 Agustus 2026. Keputusan itu tidak hanya berkaitan dengan persoalan anggaran, tetapi juga dipengaruhi hubungan Trump dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un.
Trump menilai latihan gabungan AS dan Korea Selatan selama ini justru dapat menimbulkan persepsi negatif di Pyongyang. Menurut dia, kegiatan militer tersebut berpotensi mengirimkan pesan yang dianggap terlalu keras kepada Korea Utara.
Melalui unggahannya di Truth Social, Trump menyatakan dirinya tidak lagi melihat latihan tersebut dengan cara yang sama seperti sebelumnya.
Hubungan baik yang dia klaim terjalin dengan Kim Jong Un menjadi salah satu alasan dirinya meminta perubahan terhadap latihan militer tersebut.
Trump juga menyoroti persoalan biaya. Menurutnya, latihan gabungan itu membutuhkan anggaran besar dan sebagian beban pembiayaannya selama ini berada di pihak Amerika Serikat.
Ia menilai kondisi tersebut perlu dievaluasi, terutama karena menurut pandangannya Korea Utara tidak menunjukkan ancaman maupun sikap yang dianggap tidak menghormati Amerika Serikat selama dirinya menjabat sebagai presiden.
Namun, Trump tidak memerintahkan latihan tersebut dibatalkan seluruhnya. Menurut dia, keputusan pembatalan total sudah tidak memungkinkan karena persiapannya telah berjalan. Karena itu, instruksi yang diberikan kepada Hegseth adalah memangkas kegiatan tersebut secara signifikan.
Langkah Trump ini kembali menempatkan hubungan Amerika Serikat, Korea Selatan dan Korea Utara dalam sorotan. Latihan militer gabungan selama ini menjadi simbol penting kerja sama pertahanan Washington-Seoul sekaligus salah satu hal yang kerap mendapat penolakan keras dari Pyongyang.
Keputusan tersebut menunjukkan pendekatan Trump yang mencoba menggabungkan kepentingan pertahanan dengan diplomasi langsung terhadap Korea Utara.
Hubungan personal yang diklaimnya dengan Kim Jong Un kembali menjadi faktor yang disebut dalam menentukan kebijakan Washington di kawasan Asia Timur.
Selain persoalan latihan militer, Trump juga membawa pengalaman komunikasi terbarunya dengan pemerintah Korea Selatan sebagai bagian dari penjelasan atas sikapnya.
Trump mengungkapkan bahwa dirinya sempat meminta Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung mempertimbangkan keterlibatan Seoul dalam upaya Amerika Serikat melakukan denuklirisasi Iran. Namun, menurut Trump, permintaan tersebut tidak mendapat persetujuan dari pihak Korea Selatan.
Respons Seoul yang disebut Trump hanya berupa penolakan singkat menjadi bagian lain yang disinggungnya ketika menjelaskan hubungan dengan Korea Selatan.
Dengan keputusan terbaru tersebut, perhatian kini tertuju pada bagaimana Washington dan Seoul akan menyesuaikan agenda latihan militer bersama. Di sisi lain, langkah tersebut juga berpotensi menjadi sinyal baru bagi Pyongyang mengenai arah kebijakan keamanan Amerika Serikat di Semenanjung Korea.
Bagi pemerintahan Trump, pengurangan latihan militer bukan semata-mata persoalan penghematan anggaran.
Kebijakan itu juga memperlihatkan upaya menjaga ruang komunikasi dengan Kim Jong Un, sekaligus mengurangi tindakan yang dianggap dapat memperburuk ketegangan dengan Korea Utara.
Perubahan skala latihan tersebut nantinya akan menjadi salah satu indikator penting untuk melihat seberapa jauh pendekatan Trump terhadap Pyongyang kembali diarahkan pada jalur diplomasi dibandingkan tekanan militer.
Baca selengkapnya: JurnalLugas.Com
JurnalLugas.Com
(Dahlan)






