JurnalLugas.Com – Pemimpin Tertinggi Korea Utara, Kim Jong Un, kembali mengobarkan semangat nasionalisme saat memperingati Hari Kemenangan atau Victory Day, yang menandai gencatan senjata Perang Korea pada 27 Juli 1953. Dalam pidato terbarunya, Kim menegaskan tekad negaranya untuk memenangkan “pertempuran anti-Amerika” yang menurutnya belum usai sejak tujuh dekade lalu.
Dalam seremoni yang berlangsung meriah di Ibu Kota Pyongyang, Kim Jong Un mengklaim bahwa rakyat Korea Utara tidak akan pernah tunduk kepada tekanan luar. Ia menggambarkan pertarungan melawan Amerika Serikat dan sekutunya sebagai bagian dari perjuangan panjang yang masih berlangsung hingga kini.
“Perang belum selesai. Kami tidak pernah menganggapnya sebagai masa lalu,” ujar Kim dalam pidatonya, seperti dikutip oleh media lokal.
Narasi Heroik dalam Sejarah Korea Utara
Hari Kemenangan di Korea Utara dikenal sebagai salah satu peringatan paling sakral. Momen ini dirayakan setiap tahun untuk mengenang gencatan senjata Perang Korea yang terjadi pada 1953. Bagi Korea Utara, momen tersebut bukan hanya sekadar akhir pertempuran, tetapi simbol kekuatan melawan dominasi asing, khususnya Amerika Serikat.
Kim Jong Un menyebut peristiwa 27 Juli sebagai bukti bahwa Korea Utara mampu menggagalkan agresi militer dari kekuatan besar dunia. Ia juga menyinggung bahwa bangsa Korea tidak akan membiarkan “musuh” merusak kedaulatan dan kehormatan nasionalnya.
Tekanan Internasional Tak Surutkan Ambisi
Pidato Kim disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan di Semenanjung Korea, terutama akibat aktivitas uji coba senjata nuklir dan rudal balistik oleh Pyongyang yang terus menuai kecaman internasional. Sanksi dari Dewan Keamanan PBB masih berlaku, namun tidak menghentikan Korea Utara dari mengembangkan program persenjataan strategisnya.
Kim Jong Un menegaskan bahwa upaya Barat untuk membungkam Korea Utara lewat tekanan ekonomi dan diplomatik telah gagal total. Ia menggambarkan rakyat Korea sebagai “pasukan revolusioner yang tak gentar mati demi kehormatan negara”.
“Musuh boleh menyusun strategi, tetapi kami telah memilih jalan kami sendiri. Dan jalan itu menuju kemenangan,” tegasnya.
Solidaritas Militer dan Mobilisasi Nasional
Peringatan tahun ini tidak hanya bersifat simbolik. Pemerintah Korea Utara disebut-sebut mengintensifkan pelatihan militer dan propaganda nasional sejak beberapa pekan terakhir. Parade militer skala besar direncanakan untuk menunjukkan kekuatan dan kesetiaan rakyat kepada kepemimpinan Kim Jong Un.
Sumber-sumber internal menyebutkan bahwa berbagai unit militer dilibatkan dalam simulasi pertempuran skenario penuh, termasuk persiapan pertahanan sipil di berbagai wilayah strategis.
“Peringatan ini lebih dari sekadar seremonial, tetapi juga instrumen untuk memperkuat kekompakan internal dan mengingatkan rakyat akan bahaya intervensi asing,” ujar analis kawasan Asia Timur.
Pengaruh Politik dalam Negeri dan Regional
Selain sebagai penegasan posisi politik Korea Utara terhadap Amerika Serikat, peringatan ini juga dilihat sebagai strategi internal Kim untuk memperkuat loyalitas masyarakat dan militer di tengah tekanan ekonomi domestik. Ketergantungan terhadap Cina dan isolasi ekonomi memperburuk krisis pangan dan barang-barang kebutuhan pokok di berbagai daerah.
Namun demikian, propaganda negara tetap menggambarkan Kim Jong Un sebagai pemimpin kuat yang mampu memandu negara melewati masa-masa sulit.
“Dalam narasi domestik, Kim bukan hanya penerus, tetapi juga pahlawan baru yang melanjutkan perlawanan lintas generasi,” ujar pengamat hubungan internasional di Asia.
Potensi Eskalasi dan Respons Global
Pidato yang membakar semangat perlawanan terhadap Amerika ini dikhawatirkan memicu ketegangan lebih lanjut, terutama dengan keberadaan pasukan AS di Korea Selatan dan latihan militer gabungan yang rutin dilakukan.
Washington dan Seoul sebelumnya telah mengecam uji coba senjata Korea Utara sebagai provokasi, dan menyatakan bahwa mereka tetap siap menghadapi segala bentuk ancaman.
Meski demikian, pihak Korea Utara justru menganggap latihan militer gabungan sebagai bentuk “agresi terselubung” yang membahayakan stabilitas kawasan. Dalam pandangan Pyongyang, kesiapan militer adalah kunci menjaga kedaulatan nasional.
Peringatan Hari Kemenangan Korea Utara tahun ini bukan sekadar mengenang sejarah, tetapi juga deklarasi politik bahwa negara itu tetap berpegang pada jalur konfrontatif terhadap Amerika Serikat. Dengan pidato yang penuh semangat perlawanan, Kim Jong Un memperjelas bahwa “pertempuran” masih berlanjut dalam bentuk baru, yakni perlombaan kekuatan strategis dan ketahanan nasional.
Untuk informasi terbaru dan analisis mendalam lainnya, kunjungi JurnalLugas.Com






