Scott Bessent AS Mulai Perang Ekonomi, Iran Jadi Target Utama

JurnalLugas.Com — Amerika Serikat memasuki babak baru dalam konflik dengan Iran. Setelah serangkaian tekanan militer, Washington kini mengarahkan kekuatan utamanya ke sektor ekonomi dan keuangan untuk menekan Teheran.

Bacaan Lainnya

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan pemerintah Amerika tengah memasuki tahap akhir dari strategi tersebut. Rincian operasi ekonomi itu dijadwalkan disampaikan dalam konferensi pers pada Senin.

Bessent menyebut operasi ekonomi yang disiapkan Washington sebagai langkah besar untuk mempersempit ruang gerak Iran. Ia menilai kemampuan militer dan program nuklir Iran sebelumnya telah mendapat tekanan serius.

“Ini memasuki tahap akhir, dengan tekanan finansial besar terhadap Iran,” ujar Bessent, dikutip dari pernyataannya pada Minggu (23/8/2026).

Langkah tersebut sebelumnya diumumkan Presiden AS Donald Trump pada Kamis (20/8). Trump menyebut strategi itu sebagai upaya mengisolasi Iran dalam skala yang belum pernah dilakukan sebelumnya.

Washington juga meminta negara-negara sekutu ikut mengambil bagian dalam tekanan ekonomi tersebut. Artinya, AS tidak hanya mengandalkan kebijakan domestik, tetapi berupaya memperluas tekanan terhadap Iran melalui jaringan ekonomi internasional.

Meski strategi ekonomi kini menjadi sorotan, Trump tetap membuka kemungkinan penggunaan kekuatan militer. Pergeseran menuju perang ekonomi bukan berarti opsi militer sepenuhnya ditinggalkan.

Konflik AS dan Iran sendiri telah berlangsung melalui rangkaian serangan sejak 28 Februari. AS dan Israel menyerang sejumlah sasaran di Iran, kemudian mendapat balasan dari Teheran.

Serangan kembali terjadi pada Maret ketika sasaran di kawasan ladang gas South Pars dan wilayah industri Assaluyeh menjadi target. Ketegangan berlanjut hingga kedua negara sempat mencapai kesepahaman penghentian permusuhan pada pertengahan Juni.

Namun, kesepahaman tersebut tidak bertahan lama. Serangan kembali terjadi dan membuat hubungan kedua negara tetap berada dalam kondisi tegang.

Kini, ketika pertempuran langsung tidak berlangsung seperti sebelumnya, tekanan ekonomi menjadi instrumen utama Washington.

Kebijakan tersebut dapat menjadi penentu baru arah konflik karena dampaknya tidak hanya menyasar pemerintah Iran, tetapi juga dapat memengaruhi aktivitas perdagangan dan sektor keuangan negara tersebut.

Bagi dunia, perkembangan ini perlu diperhatikan karena eskalasi ekonomi antara dua negara besar dapat merembet ke pasar energi, perdagangan internasional dan stabilitas kawasan Timur Tengah.

Berita dan informasi terkini lainnya dapat dibaca melalui JurnalLugas.Com.

(Handoko)

Tombol Google News - JurnalLugas
Baca Juga  China Bantah Suplai Senjata ke Iran, Ancaman Tarif Trump Picu Risiko Baru

Pos terkait