Desil BPS Bikin Bingung? Ini Arti dan Cara Menentukannya

JurnalLugas.Com — Pembahasan mengenai desil kembali ramai setelah sebagian masyarakat mempertanyakan hasil pengelompokan yang dinilai belum menggambarkan kondisi kesejahteraan mereka.

Badan Pusat Statistik (BPS) menegaskan, desil bukan angka yang menunjukkan jumlah pendapatan atau kekayaan sebuah keluarga.

Bacaan Lainnya

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menjelaskan, desil merupakan peringkat relatif tingkat kesejahteraan keluarga. Masyarakat diperingkatkan berdasarkan sejumlah karakteristik sosial ekonomi, kemudian dibagi menjadi 10 kelompok.

Desil 1 menunjukkan kelompok dengan tingkat kesejahteraan relatif paling rendah. Sementara desil 10 berada pada kelompok dengan tingkat kesejahteraan relatif paling tinggi.

Artinya, keluarga yang masuk desil 3 tidak otomatis memiliki kondisi ekonomi yang sama dengan seluruh keluarga lain di desil tersebut. Posisi itu menunjukkan letak sebuah keluarga dibandingkan keluarga lainnya dalam pemeringkatan.

Baca Juga  Gunungsitoli Catat Inflasi Tertinggi 10,84% Nasional, BPS Ungkap Sebaran Wilayah Paling Terdampak

“Desil adalah gambaran posisi relatif, bukan ukuran tunggal kondisi ekonomi keluarga,” kata Amalia dalam keterangannya yang diterima JurnalLugas.Com, Senin (24/8/2026).

Desil Tidak Ditentukan dari Penghasilan Saja

BPS menjelaskan, penentuan desil tidak hanya melihat penghasilan, pekerjaan, kepemilikan barang, atau penggunaan listrik. Sejumlah kondisi keluarga diperhitungkan secara bersamaan.

Beberapa di antaranya meliputi kondisi rumah, sumber air minum, energi untuk memasak, kepemilikan aset, konsumsi listrik, jumlah anggota keluarga, pendidikan, pekerjaan, kesehatan hingga kondisi disabilitas.

Data tersebut kemudian diolah menggunakan metode Proxy Means Test (PMT) untuk memperkirakan posisi kesejahteraan relatif keluarga berdasarkan karakteristik yang dapat diamati.

Karena memakai banyak indikator, perubahan satu kondisi saja tidak selalu membuat posisi desil langsung berubah. Begitu pula seseorang tidak dapat menentukan sendiri desil keluarganya hanya berdasarkan satu ukuran ekonomi.

Desil juga bukan daftar pasti penerima bantuan sosial. Pemerintah dapat menggunakan informasi tersebut sebagai salah satu pertimbangan dalam menentukan sasaran program sesuai aturan dan tujuan masing-masing.

Posisi desil pun bisa berubah ketika kondisi sosial ekonomi keluarga berubah atau ketika posisi relatifnya dibandingkan keluarga lain mengalami pergeseran.

Karena itu, BPS menekankan pentingnya pemutakhiran Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Masyarakat yang menemukan data keluarganya tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya dapat menyampaikan pembaruan melalui mekanisme resmi yang tersedia.

Pada akhirnya, memahami desil menjadi penting agar angka tersebut tidak keliru dianggap sebagai ukuran pasti seseorang kaya atau miskin.

Desil lebih tepat dibaca sebagai posisi relatif keluarga dalam pemeringkatan kesejahteraan berdasarkan gabungan sejumlah data sosial ekonomi.

Informasi dan pemberitaan lainnya dapat dibaca melalui JurnalLugas.Com.

(William)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait