China Bantah Suplai Senjata ke Iran, Ancaman Tarif Trump Picu Risiko Baru

JurnalLugas.Com — Ketegangan geopolitik kembali memanas setelah Donald Trump mengancam akan mengenakan tarif tambahan hingga 50 persen terhadap China. Ancaman tersebut muncul dari tudingan bahwa Beijing memasok senjata ke Iran di tengah konflik yang terus membesar di Timur Tengah.

Namun, pemerintah China langsung membantah keras tuduhan tersebut. Melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri, Guo Jiakun menegaskan bahwa negaranya tidak pernah terlibat dalam pengiriman senjata ke Teheran.

Bacaan Lainnya

“China selalu bertindak bertanggung jawab dalam ekspor militer. Semua tuduhan itu tidak berdasar,” ujarnya singkat dalam konferensi pers di Beijing.

Ancaman Tarif dan Potensi Balasan

Pernyataan tersebut bukan sekadar klarifikasi, tetapi juga sinyal peringatan. Beijing menegaskan siap merespons jika Washington tetap melanjutkan kebijakan tarif berdasarkan tuduhan yang dianggap tidak berdasar.

Langkah ini berpotensi memperluas konflik dari ranah militer ke ekonomi global. Jika eskalasi berlanjut, perang dagang jilid baru antara dua kekuatan ekonomi dunia bisa tak terhindarkan.

Baca Juga  Trump Usir Warga Gaza Bencana Nakba 1948 Tak Terulang di Palestina

Iran Siapkan Kekuatan Tersembunyi

Di sisi lain, Iran menunjukkan sikap yang tidak kalah tegas. Melalui pernyataan juru bicara militer Hossein Mohebbi, Teheran mengisyaratkan bahwa mereka belum mengerahkan seluruh kekuatan militernya.

“Kami masih menyimpan kemampuan yang belum digunakan,” ungkapnya.

Sementara itu, pejabat pertahanan Reza Talaeinik menegaskan bahwa stok persenjataan Iran, mulai dari rudal hingga drone, dalam kondisi siap untuk operasi jangka panjang, baik ofensif maupun defensif.

Selat Hormuz Jadi Titik Kritis

Salah satu titik paling sensitif dalam konflik ini adalah Selat Hormuz. Jalur strategis ini mengalirkan sekitar 20 persen pasokan energi dunia.

Blokade yang dilakukan oleh militer AS di kawasan tersebut dinilai sebagai langkah berisiko tinggi. China menyebut tindakan itu justru memperparah situasi dan mengancam stabilitas global.

Guo Jiakun menilai bahwa kebijakan tersebut dapat merusak momentum gencatan senjata yang sudah rapuh, sekaligus meningkatkan risiko konflik terbuka yang lebih luas.

Gencatan Senjata di Ujung Tanduk

Konflik bersenjata yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel sejak akhir Februari 2026 telah menelan korban besar, baik dari sisi manusia maupun ekonomi. Ribuan korban jiwa dilaporkan, sementara kerusakan infrastruktur mencapai ratusan miliar dolar.

Baca Juga  Teror di Boulder Trump Larang Warga dari 19 Negara Masuk Amerika

Upaya damai sempat dilakukan melalui perundingan di Islamabad, namun belum membuahkan hasil konkret. Perbedaan kepentingan, khususnya terkait kontrol Selat Hormuz, menjadi penghambat utama.

China mendorong semua pihak untuk kembali ke jalur diplomasi. Beijing menilai bahwa hanya gencatan senjata permanen yang dapat meredakan ketegangan dan memulihkan stabilitas kawasan.

“Dialog adalah satu-satunya jalan keluar,” tegas Guo Jiakun.

Ia juga menambahkan bahwa China siap bekerja sama dengan komunitas internasional untuk membawa pihak-pihak yang bertikai kembali ke meja perundingan.

Konflik yang terus berkembang ini tidak hanya berdampak pada kawasan Timur Tengah, tetapi juga mengguncang ekonomi global, terutama sektor energi. Dunia kini menunggu, apakah diplomasi masih memiliki ruang, atau justru ketegangan akan terus meningkat menuju krisis yang lebih besar.

Baca analisis lengkap lainnya hanya di
https://JurnalLugas.Com

(HD)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait