Harga Minyak Dunia Anjlok Lebih dari 5 Persen, Selat Hormuz Jadi Penentu Pasar

JurnalLugas.Com – Harga minyak dunia mengakhiri perdagangan pekan ini dengan tekanan cukup dalam. Minyak Brent mencatat penurunan mingguan lebih dari 5 persen, sementara West Texas Intermediate (WTI) melemah lebih dari 4 persen.

Pada perdagangan Jumat, 28 Agustus 2026, harga Brent turun 0,43 persen ke level USD89,31 per barel. WTI juga terkoreksi 0,16 persen menjadi USD83,40 per barel.

Bacaan Lainnya

Pergerakan tersebut tidak lepas dari perkembangan pasokan minyak melalui Selat Hormuz. Pasar mulai melihat adanya peningkatan arus pengiriman setelah sebelumnya jalur strategis tersebut terganggu akibat konflik di kawasan Timur Tengah.

Selat Hormuz menjadi perhatian besar karena sebelum konflik, sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati jalur tersebut. Jika lalu lintas tanker kembali normal, kekhawatiran terhadap pasokan global berpotensi mereda dan ikut menekan harga minyak.

Baca Juga  Trump Mumet, Rayu Eropa dan Negara Arab Buka Selat Hormuz, Ancam NATO Jika Sekutu Diam

Analis Rystad Energy Janiv Shah menilai tambahan volume minyak yang mulai keluar melalui koridor Iran-Oman menjadi salah satu faktor penting di balik pelemahan harga. Menurutnya, pemulihan arus pasokan membuat kilang-kilang di Asia kembali memiliki ruang untuk memperoleh minyak mentah.

Di sisi lain, pasar masih menghadapi ketidakpastian. Amerika Serikat memperluas sanksi terhadap Iran, sementara pembicaraan untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz terus menjadi perhatian pelaku pasar.

Tekanan terhadap minyak juga datang dari arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat. Sinyal kemungkinan kenaikan suku bunga untuk mengendalikan inflasi membuat investor kembali berhati-hati terhadap prospek permintaan energi.

Baca Juga  Trump Perintahkan Tembak Kapal Penebar Ranjau di Selat Hormuz

Dengan kondisi tersebut, arah harga minyak dalam waktu dekat masih sangat bergantung pada dua hal: seberapa cepat arus minyak melalui Selat Hormuz pulih dan bagaimana perkembangan konflik serta diplomasi AS-Iran.

Bagi pasar global, normalisasi jalur pelayaran dapat menjadi sentimen penekan harga. Namun jika kembali terjadi gangguan pengiriman, harga minyak berpotensi bergerak berlawanan dengan cepat.

Baca berita lainnya JurnalLugas.Com
JurnalLugas.Com

(Endarto)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait