JurnalLugas.Com — Dua puluh lima tahun setelah serangan 11 September 2001 atau 9/11, kisah dari orang yang berada sangat dekat dengan Presiden Amerika Serikat George W. Bush kembali mengungkap suasana genting di balik peristiwa tersebut.
Michael Morell, yang saat itu menjadi pemberi briefing intelijen harian untuk Bush, menceritakan bagaimana situasi berubah drastis dalam hitungan menit. Pagi itu awalnya berjalan normal ketika rombongan presiden berada di Florida untuk agenda pendidikan di sebuah sekolah dasar.
Morell mengaku sedang mengikuti perkembangan kegiatan presiden ketika kabar pertama tentang pesawat yang menabrak World Trade Center muncul. Pada awalnya informasi yang diterima masih sangat terbatas.
Namun, setelah pesawat kedua menghantam menara kembar di New York, suasana langsung berubah. Bagi Morell, kejadian tersebut bukan lagi kecelakaan biasa.
Ia segera meyakini bahwa Amerika Serikat sedang menghadapi serangan teror.
Situasi kemudian semakin serius setelah sebuah pesawat menghantam Pentagon. Dinas Rahasia Amerika Serikat langsung memprioritaskan keselamatan presiden karena belum diketahui apakah masih ada serangan lain yang sedang berlangsung.
Bush akhirnya diterbangkan keluar dari Florida menggunakan Air Force One. Pesawat tersebut sempat menuju pangkalan militer sebelum kemudian bergerak ke Nebraska. Keamanan presiden menjadi perhatian utama karena saat itu belum ada kepastian mengenai ancaman yang mungkin masih mengarah ke Washington.
Di tengah penerbangan, Bush meminta Morell datang menemuinya.
Pertanyaan presiden kala itu sangat sederhana, tetapi menjadi salah satu momen yang paling diingat Morell: siapa yang berada di balik serangan tersebut?
Morell mengatakan bahwa pikirannya sempat mempertimbangkan negara seperti Iran atau Irak. Namun, menurut analisisnya, kedua negara itu tidak memiliki alasan strategis untuk melakukan serangan dengan konsekuensi sebesar itu.
Ia kemudian mengarah kepada Osama bin Laden dan Al Qaeda.
Menurut Morell, kelompok tersebut memang telah menjadi perhatian utama intelijen Amerika dalam beberapa bulan sebelumnya. Tak lama kemudian, CIA juga memperoleh petunjuk yang mengarah kepada Al Qaeda melalui pemeriksaan data para pembajak pesawat terhadap basis data terorisme.
Yang menarik, Morell mengaku pada saat berbicara dengan Bush dirinya belum menerima seluruh informasi yang sudah diketahui CIA.
Peristiwa itu menunjukkan betapa cepatnya pusat pemerintahan Amerika harus mengambil keputusan dalam kondisi informasi yang belum lengkap. Di satu sisi, ancaman belum sepenuhnya diketahui. Di sisi lain, presiden harus segera dipindahkan ke lokasi yang lebih aman.
Setelah berada di Nebraska, Bush akhirnya memutuskan kembali ke Washington meski aparat keamanan masih mengkhawatirkan keselamatannya.
Dalam perjalanan pulang, Morell juga menyaksikan F-16 mengawal Air Force One. Pesawat tempur tersebut berada di dekat pesawat kepresidenan untuk mengantisipasi kemungkinan serangan selama penerbangan menuju Washington.
Bagi Morell, gambaran tersebut menjadi salah satu titik ketika besarnya tragedi mulai terasa.
Ia kemudian menilai 9/11 bukan semata kegagalan satu lembaga. Menurutnya, tragedi tersebut berkaitan dengan persoalan intelijen, kebijakan, pengawasan Kongres, hingga bagaimana peringatan ancaman diterjemahkan menjadi tindakan.
AP News mewartakan Kesaksian Morell kembali menjadi perhatian ketika Amerika Serikat memperingati 25 tahun serangan 9/11. Pada momentum yang sama, sejumlah dokumen intelijen lama juga dibuka kepada publik, memperlihatkan bahwa ancaman Al Qaeda sebenarnya telah menjadi perhatian pemerintah Amerika sebelum serangan terjadi.
Namun, persoalan terbesar bukan hanya apakah peringatan pernah diterima. Pertanyaan yang terus muncul adalah mengapa berbagai informasi tersebut belum mampu mencegah tragedi yang menewaskan hampir 3.000 orang.
Dua puluh lima tahun berlalu, kisah dari orang-orang yang berada di lingkaran terdekat pemerintahan Bush memperlihatkan bahwa 9/11 bukan hanya cerita tentang serangan teror. Peristiwa itu juga menjadi titik balik besar bagi sistem keamanan, intelijen dan kebijakan luar negeri Amerika Serikat.
Morell sendiri mengatakan ia tidak menyadari pada saat itu bahwa dirinya sedang menyaksikan sebuah peristiwa yang akan mengubah sejarah. Ia hanya merasa sedang menjalankan tugasnya.
Kini, dari jarak seperempat abad, momen tersebut justru menjadi salah satu kesaksian penting tentang bagaimana pemerintahan Amerika menghadapi hari paling genting dalam sejarah modernnya.
Baca berita lainnya
JurnalLugas.Com
(Handoko)






