Trump Tolak Regulasi Global AI, PBB Serukan Pengendalian Risiko

JurnalLugas.Com — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan sikap Washington yang menolak upaya internasional untuk membuat aturan global dalam mengendalikan perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Trump menyampaikan sikap tersebut dalam debat umum sesi ke-81 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNGA) pada Selasa, 22 September. Menurut dia, Amerika Serikat akan tetap mendorong kemajuan AI sekaligus menjaga kepemimpinannya dalam teknologi tersebut.

Bacaan Lainnya

Trump menilai perkembangan AI tidak seharusnya dibatasi melalui skema pengaturan global. Ia bahkan membandingkan potensi AI dengan revolusi industri yang pernah mengubah perekonomian dunia.

“AS menolak skema global untuk mengendalikan AI,” ujar Trump dalam pidatonya.

Meski menolak regulasi global, Trump mengatakan pemerintah AS tetap akan melakukan pengawasan. Departemen Kehakiman disebut akan memantau perkembangan AI agar teknologi tersebut dikembangkan secara aman dan bertanggung jawab.

Trump juga menyampaikan gagasan agar istilah artificial intelligence mulai digeser menjadi super intelligence. Pernyataan itu muncul ketika kekhawatiran mengenai kemampuan AI dan potensi perkembangannya secara mandiri terus menjadi perhatian.

PBB Soroti Risiko AI

Pandangan Trump berseberangan dengan kekhawatiran yang disampaikan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dalam forum yang sama.

Guterres memperingatkan bahwa manusia semakin banyak menyerahkan kekuasaan kepada mesin. Menurutnya, perkembangan agen AI yang dapat bertindak di luar kendali serta penggunaan senjata otonom menunjukkan bahwa risiko teknologi tersebut tidak lagi sebatas gambaran fiksi ilmiah.

Ia menyerukan negara-negara yang berada di garis depan pengembangan AI untuk saling berbagi informasi mengenai risiko keselamatan.

Guterres juga mendorong pembentukan kerangka kerja multilateral untuk mengelola risiko AI. Langkah tersebut diarahkan agar perkembangan teknologi tetap berada dalam pengawasan dan tidak menimbulkan risiko yang sulit dikendalikan.

Seruan serupa datang dari Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva. Dalam pidatonya sebelum Trump, Lula mendorong adanya regulasi terhadap perusahaan teknologi besar dan pengembangan AI.

Lula mengingatkan bahwa kemajuan teknologi perlu disertai aturan, transparansi, serta batasan etis. Perbedaan pandangan di forum PBB itu menunjukkan bahwa masa depan AI tidak hanya menjadi persoalan teknologi, tetapi juga menyangkut bagaimana negara-negara mengatur risiko dan penggunaannya.

Bagi Amerika Serikat, prioritasnya adalah mempertahankan kepemimpinan teknologi tanpa terikat skema regulasi global. Sementara itu, PBB dan sejumlah pemimpin negara menekankan perlunya kerja sama internasional untuk memastikan perkembangan AI tetap dapat dikendalikan.

Baca berita lainnya di JurnalLugas.Com

(Handoko)

Tombol Google News - JurnalLugas
Baca Juga  Trump Ngamuk! Dituduh Bantu Iran Rp48 Triliun Bangun Nuklir Sebut Media Palsu

Pos terkait