JurnalLugas.Com – Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) semakin mengkhawatirkan setelah jumlah kasus terkonfirmasi melampaui 10.000 orang.
Selain tingginya angka kematian, upaya pengendalian penyakit ini menghadapi hambatan serius berupa penularan yang sulit dilacak, keterbatasan layanan kesehatan, hingga serangan terhadap petugas di lapangan.
Data Kementerian Kesehatan Kongo yang dilaporkan Associated Press (AP) pada 28 Oktober 2026 mencatat sebanyak 10.060 kasus terkonfirmasi.
Hampir separuh pasien yang terinfeksi dilaporkan meninggal dunia, menjadikan wabah kali ini sebagai yang paling mematikan dalam sejarah Ebola di negara tersebut.
Wabah yang diumumkan pada Mei 2026 itu disebabkan virus Bundibugyo, salah satu jenis virus Ebola yang relatif jarang ditemukan.
Hingga kini, tantangan penanganan semakin kompleks karena virus telah menyebar ke puluhan wilayah kesehatan di Kongo dan memunculkan kasus di sejumlah negara lain.
Penularan Sulit Dilacak, Banyak Kasus di Luar Pemantauan
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa hingga 20 Oktober 2026, Kongo mencatat 9.704 kasus terkonfirmasi dengan 4.687 kematian. Angka tersebut menunjukkan betapa cepatnya wabah berkembang dalam beberapa bulan terakhir.
Provinsi Ituri menjadi pusat penyebaran utama dengan ribuan kasus dan kematian. Wilayah Nord Kivu juga mengalami dampak besar, sementara sejumlah provinsi lainnya mulai melaporkan kasus yang memperluas jangkauan wabah.
Salah satu persoalan utama adalah banyaknya penderita yang tidak teridentifikasi sejak awal. Menurut laporan AP, sekitar 80 persen kasus yang tercatat berasal dari orang-orang yang sebelumnya tidak masuk dalam pemantauan kontak erat.
Kondisi tersebut menyulitkan petugas kesehatan memutus rantai penularan. Jika seseorang terinfeksi tetapi belum teridentifikasi, riwayat kontaknya berpotensi tidak segera ditelusuri sehingga virus dapat terus menyebar di masyarakat.
Situasi ini diperburuk oleh masih adanya warga yang terlambat mencari pertolongan medis. Laporan AP menyebutkan setidaknya separuh kematian terjadi pada pasien yang belum sempat dirawat di pusat pengobatan.
Serangan terhadap Petugas Memperumit Penanganan
Di tengah peningkatan kasus, petugas kesehatan menghadapi ancaman ketika menjalankan tugas di wilayah terdampak.
WHO melaporkan seorang perawat tewas dan seorang tenaga kesehatan lainnya mengalami luka berat dalam serangan saat merespons laporan dugaan kasus Ebola di Bafwasende, Provinsi Tshopo, pada akhir Oktober.
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengecam serangan tersebut. Ia menegaskan bahwa petugas yang berupaya melindungi masyarakat harus dapat bekerja dengan aman dan bermartabat.
Direktur Regional WHO untuk Afrika, Mohamed Yakub Janabi, juga mengingatkan bahwa ketakutan dan informasi keliru tidak boleh memicu kekerasan terhadap petugas kesehatan.
Serangan semacam ini dapat menghambat pemeriksaan pasien, pelacakan kontak, edukasi masyarakat, serta proses pemakaman yang aman bagi korban Ebola. Padahal, seluruh langkah tersebut merupakan bagian penting untuk mencegah penularan lebih lanjut.
Ketidakpercayaan sebagian masyarakat terhadap pemerintah dan tim penanggulangan juga menjadi tantangan tersendiri.
Di sejumlah lokasi, petugas harus menghadapi penolakan warga yang meragukan keberadaan atau tingkat bahaya penyakit tersebut.
Kasus Menyebar ke Negara Lain
Ancaman wabah tidak lagi terbatas di Kongo. WHO pada 23 Oktober melaporkan bahwa kasus penyakit virus Bundibugyo juga ditemukan di Kenya dan Nigeria, sehingga jumlah negara yang terdampak sejak wabah diumumkan mencapai lima negara, termasuk Uganda dan Prancis.
Di Kenya, sembilan kasus telah dilaporkan hingga 20 Oktober, termasuk satu kematian. Seluruh kasus tambahan diketahui berkaitan dengan kasus impor pertama dan membentuk satu klaster penularan. Saat itu, WHO menyatakan belum ada bukti penyebaran yang lebih luas di masyarakat.
Nigeria juga mengonfirmasi satu kasus impor pada 20 Oktober. Pasien tersebut menjalani isolasi dan mendapatkan perawatan medis, sementara petugas menelusuri riwayat perjalanan serta kontaknya.
WHO meminta negara-negara memperkuat pengawasan penyakit, kemampuan pemeriksaan laboratorium, pelacakan kontak, dan koordinasi lintas perbatasan.
Meski demikian, WHO tidak merekomendasikan pembatasan perjalanan maupun perdagangan dengan negara-negara terdampak berdasarkan penilaian yang tersedia saat itu.
Vaksin Masih dalam Tahap Penelitian
Upaya pengendalian Ebola jenis Bundibugyo menghadapi tantangan karena belum tersedia vaksin atau pengobatan spesifik yang telah disetujui untuk jenis virus ini.
WHO melaporkan uji klinis vaksin kandidat melalui penelitian TUMAINI telah dimulai pada 23 Oktober di Bunia, Provinsi Ituri.
Penelitian fase 2/3 tersebut diharapkan menghasilkan bukti ilmiah mengenai kandidat vaksin yang dapat membantu melindungi masyarakat dari penyakit tersebut.
Sementara penelitian berlangsung, penanganan pasien masih bertumpu pada perawatan suportif, termasuk pemberian cairan dan dukungan terhadap fungsi organ sesuai kebutuhan medis.
Deteksi dini, isolasi, pelacakan kontak, serta keterlibatan masyarakat tetap menjadi kunci untuk menekan angka kematian dan menghentikan penularan.
Besarnya jumlah kasus menunjukkan bahwa pengendalian Ebola di Kongo tidak cukup hanya mengandalkan fasilitas pengobatan.
Keamanan petugas, kepercayaan masyarakat, dan kemampuan menemukan kasus sebelum penularan meluas juga menentukan keberhasilan respons wabah.
Baca berita lainnya di JurnalLugas.Com.
(Dahlan)






