JurnalLugas.Com – Kenaikan harga nikel di pasar global membuka peluang tambahan keuntungan bagi PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam. Namun, potensi tersebut tidak hanya ditentukan oleh pergerakan harga komoditas, melainkan juga volume penjualan, biaya produksi, dan keseimbangan pasokan dunia.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, menilai penguatan harga nikel dapat meningkatkan harga jual rata-rata produk nikel Antam. Kondisi ini berpeluang memperbesar margin keuntungan sekaligus memperbaiki prospek profitabilitas perusahaan.
“Penguatan harga nikel dapat menjadi katalis bagi prospek laba dan penilaian saham ANTM, selama didukung penjualan yang kuat serta pengendalian biaya produksi,” kata Nafan dalam keterangannya di Jakarta, Rabu, 28 Oktober 2026.
Harga nikel diketahui berada di kisaran 16.000 dolar AS per ton di London Metal Exchange (LME). Pergerakan harga tersebut menjadi salah satu faktor yang diperhatikan investor dalam menilai prospek bisnis pertambangan, termasuk kinerja segmen nikel Antam.
Meski demikian, kenaikan harga komoditas tidak otomatis menjamin saham ANTM terus menguat. Investor tetap perlu memperhatikan keberlanjutan tren harga, kebijakan kuota produksi, serta perkembangan hilirisasi yang memengaruhi dinamika industri nikel.
Pendapatan Segmen Nikel Antam Melonjak 52 Persen
Kinerja keuangan Antam hingga September 2026 menunjukkan peningkatan kontribusi dari bisnis nikel. Segmen yang mencakup feronikel dan bijih nikel tersebut mencatat pendapatan Rp16,98 triliun, naik 52 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp11,15 triliun.
Kontribusi segmen nikel mencapai 19 persen dari total pendapatan perseroan. Capaian ini memperlihatkan semakin pentingnya bisnis tersebut dalam menopang pendapatan perusahaan di tengah pergerakan pasar komoditas.
Secara keseluruhan, Antam membukukan laba bersih Rp9,66 triliun hingga September 2026, meningkat 46 persen dari Rp6,61 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Pendapatan perusahaan juga tumbuh 23 persen menjadi Rp88,4 triliun, dibandingkan Rp72 triliun sebelumnya.
Pasar domestik masih menjadi penopang utama bisnis perseroan. Penjualan dalam negeri mencapai Rp83,86 triliun atau sekitar 95 persen dari total pendapatan, tumbuh 21 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Penjualan tersebut ditopang penyerapan produk emas, bijih nikel, dan bijih bauksit.
Dari sisi operasional, produksi bijih nikel Antam hingga September 2026 mencapai 12,16 juta wet metric ton (wmt), sedangkan penjualannya tercatat 10,73 juta wmt.
Sementara itu, produksi feronikel mencapai 11.638 ton nikel dalam feronikel (TNi). Penjualan produk tersebut mencapai 13.971 TNi, meningkat 71 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 8.182 TNi.
Proyeksi Laba dan Risiko yang Perlu Dicermati Investor
Di tengah penguatan kinerja tersebut, BNI Sekuritas memproyeksikan laba bersih Antam pada 2026 dapat tumbuh 92 persen menjadi Rp12,4 triliun. Saham perusahaan juga dinilai memiliki valuasi relatif murah, dengan rasio harga terhadap laba atau price to earnings ratio (PER) sebesar 5,3 kali.
Meski demikian, proyeksi tersebut tetap perlu dicermati bersama perkembangan harga komoditas dan realisasi kinerja perusahaan. Risiko kelebihan pasokan nikel global dapat membatasi kenaikan harga, sehingga manfaatnya terhadap pendapatan dan laba Antam belum tentu berlangsung secara berkelanjutan.
Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Antam, Arini Kasmira, menegaskan bahwa penguatan bisnis nikel merupakan bagian dari strategi menjaga keseimbangan portofolio komoditas perusahaan.
“Peningkatan kontribusi nikel pada semester I 2026 memperkuat peran diversifikasi komoditas dalam menjaga kinerja perseroan,” ujar Arini.
Ia menambahkan, perusahaan akan terus menyesuaikan strategi bisnis dengan perkembangan pasar, sembari mengoptimalkan efisiensi dan potensi setiap komoditas.
Prospek saham ANTM dengan demikian perlu dilihat dari dua sisi: peluang pertumbuhan laba akibat penguatan harga nikel dan kemampuan perusahaan mempertahankan kinerja ketika kondisi pasar berubah.
Baca berita lainnya di JurnalLugas.Com
(William)






