Polda Metro Jaya Minta Maaf Polemik Deklarasi Sumpah Pemuda, Raffi Ahmad dan Willie Salim

JurnalLugas.Com – Polemik Deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa Indonesia 2026 di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, berujung pada permintaan maaf dari Polda Metro Jaya.

Kegiatan yang semula dimaksudkan untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda itu mendapat perhatian publik setelah muncul persoalan terkait identitas sejumlah peserta yang mengenakan jas almamater perguruan tinggi.

Bacaan Lainnya

Kontroversi tersebut mencuat setelah beberapa orang yang hadir mengaku sebagai mahasiswa dari universitas tertentu. Namun, belakangan muncul informasi bahwa mereka ternyata tidak pernah menempuh pendidikan di kampus yang identitasnya ditampilkan melalui jas almamater tersebut.

Menanggapi persoalan itu, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat. Ia mengakui kegiatan tersebut memunculkan beragam tanggapan dan memastikan kritik publik akan menjadi bahan evaluasi institusinya.

“Atas nama Polda Metro Jaya, kami meminta maaf kepada seluruh masyarakat,” ujar Budi dalam keterangannya, Sabtu (31/10/2026) malam.

Menurut Budi, kepolisian tidak mengabaikan berbagai masukan yang muncul setelah penyelenggaraan kegiatan tersebut. Evaluasi diperlukan agar pelaksanaan kegiatan maupun pelayanan kepolisian ke depan dapat berjalan lebih baik.

Raffi Ahmad dan Willie Salim Hadir atas Undangan Polisi

Selain persoalan identitas peserta, kehadiran Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, Raffi Ahmad, serta kreator konten Willie Salim turut menjadi perhatian.

Budi menjelaskan, kedua figur publik tersebut hadir karena mendapat undangan dari Polda Metro Jaya sebagai penyelenggara acara.

Ia menegaskan kehadiran Raffi dan Willie dilandasi keinginan untuk ikut memperingati momentum Sumpah Pemuda, bukan sebagai pihak yang menyelenggarakan kegiatan tersebut.

“Keduanya berniat baik untuk turut memaknai Sumpah Pemuda,” kata Budi.

Deklarasi itu sendiri mengusung tema Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia. Kegiatan tersebut digelar dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-98.

Polisi Jadikan Kritik sebagai Bahan Evaluasi

Polda Metro Jaya menyatakan menghormati respons masyarakat terhadap penyelenggaraan deklarasi tersebut. Institusi kepolisian juga menempatkan kritik yang muncul sebagai masukan untuk memperbaiki pelaksanaan kegiatan berikutnya.

Budi mengingatkan bahwa semangat Sumpah Pemuda seharusnya menjadi momentum memperkuat persatuan, bukan justru memunculkan persoalan di tengah masyarakat.

Karena itu, ia memastikan setiap masukan akan diperhatikan dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan kepolisian.

“Setiap masukan akan kami jadikan bahan evaluasi agar pelayanan kami terus menjadi lebih baik,” tuturnya.

Permintaan maaf tersebut menjadi respons resmi Polda Metro Jaya atas polemik yang berkembang setelah deklarasi berlangsung.

Perhatian publik kini tertuju pada evaluasi penyelenggaraan kegiatan, terutama menyangkut penggunaan identitas perguruan tinggi dalam acara yang membawa nama mahasiswa.

Baca berita lainnya di JurnalLugas.Com

(Catur)

Tombol Google News - JurnalLugas
Baca Juga  Semua Barang Uya Kuya Ludes Dijarah Massa Rumah Hancur Berantakan

Pos terkait