JurnalLugas.Com – Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto akhirnya menjelaskan status kesiagaan prajurit menyusul kabar pengerahan pasukan dalam jumlah besar ke Jakarta.
Ia menyebut TNI saat ini menggunakan istilah siaga sebagai bagian dari upaya menjaga kedaulatan negara dari berbagai kemungkinan ancaman.
Penjelasan tersebut disampaikan Agus saat berada di Taman Makam Pahlawan (TMP) Cikutra, Kota Bandung, Kamis, 5 November 2026.
Agus mengatakan, kesiagaan merupakan bagian dari langkah internal TNI untuk menghadapi ancaman yang dapat mengganggu keamanan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Siaga ini untuk mempertahankan kedaulatan NKRI dari berbagai ancaman,” ujar Agus.
Meski demikian, Panglima TNI tidak merinci ancaman tertentu yang menjadi alasan peningkatan kesiagaan tersebut.
Ia justru menjelaskan bahwa ancaman yang dihadapi TNI secara umum terbagi menjadi dua kategori, yakni ancaman alam dan ancaman buatan manusia.
Ancaman alam meliputi bencana seperti banjir, kebakaran hutan, dan tsunami. Sementara ancaman buatan manusia dapat berupa konflik sosial, terorisme, radikalisme, hingga makar.
Panglima Jelaskan Tingkatan Siaga TNI
Agus juga menerangkan bahwa status kesiagaan TNI memiliki tiga tingkatan, yaitu siaga satu, siaga dua, dan siaga tiga.
Siaga satu merupakan kondisi ketika eskalasi ancaman meningkat. Dalam situasi tersebut, personel dan alat utama sistem persenjataan (alutsista) disiapkan secara penuh untuk menjalankan tugas.
“Personel dan alutsista sudah disiagakan penuh dan masuk ke pos masing-masing,” jelas Agus.
Pada kondisi siaga satu, prajurit juga tidak diperbolehkan meninggalkan kesatrian. Status kesiagaan dapat diturunkan menjadi siaga dua hingga siaga tiga apabila tingkat ancaman mulai berkurang.
Namun, Agus memberikan penjelasan khusus terkait kesiagaan menghadapi bencana. Menurutnya, status siaga satu dapat terus diberlakukan untuk penanganan bencana karena Indonesia mulai memasuki musim penghujan dan sejumlah wilayah telah mengalami banjir.
Dalam kondisi tersebut, personel bersama alutsista disiapkan agar dapat segera digerakkan ketika dibutuhkan.
Mabes TNI Sebut Pengerahan Pasukan Agenda Kesiapsiagaan
Sebelumnya, pergerakan pasukan dalam jumlah besar dari sejumlah matra TNI di wilayah DKI Jakarta pada Selasa, 3 November 2026, menjadi perhatian publik.
Menanggapi hal itu, Kepala Pusat Penerangan TNI Mayjen Muhammad Nas meminta masyarakat tidak menghubungkan kegiatan tersebut dengan berbagai isu yang berkembang.
“Tidak perlu dikait-kaitkan dengan isu apa pun,” kata Nas kepada wartawan, Rabu, 4 November 2026.
Ia menjelaskan, pengerahan personel merupakan agenda rutin untuk menguji kesiapsiagaan prajurit dalam menghadapi berbagai skenario. Menurutnya, kesiapan pasukan merupakan bagian dari tugas TNI untuk melindungi masyarakat dan menjaga keutuhan NKRI.
Dengan penjelasan Panglima TNI dan Mabes TNI tersebut, pengerahan pasukan di Jakarta disebut sebagai bagian dari kesiapsiagaan menghadapi berbagai kemungkinan ancaman.
Namun, Agus tidak menyebutkan adanya ancaman khusus yang menjadi pemicu pengerahan personel tersebut.
Baca berita lainnya di JurnalLugas.Com
(Bowo)






