Polemik Jalan Lubuk Cuik Diduga Ditunggangi Oknum, Warga Justru Seolah-olah Diposisikan Bersalah

JurnalLugas.Com – Polemik penutupan akses jalan di Dusun 7 Simpang Nangka, Desa Lubuk Cuik, Kecamatan Limapuluh Pesisir, Kabupaten Batu Bara, belum juga menemukan penyelesaian.

Di tengah persoalan yang berlarut-larut, warga mulai mempertanyakan arah penanganan pemerintah desa yang dinilai justru membuat masyarakat sekitar seolah-olah menjadi pihak yang bersalah.

Bacaan Lainnya

Warga menduga persoalan tersebut telah ditunggangi oknum tidak bertanggung jawab yang memanfaatkan polemik untuk memutarbalikkan fakta.

Akibatnya, persoalan utama yang menjadi awal munculnya konflik dikhawatirkan semakin kabur, sementara perhatian justru diarahkan kepada warga.

Padahal, menurut warga, persoalan awal yang perlu dijelaskan dan diselesaikan berkaitan dengan masalah kotoran ayam boiler untuk pemupukan pohon sawit serta keberadaan tiang listrik PLN di sekitar akses jalan desa yang kemudian ditutup.

Baca Juga  Anti JIL Tangkap ISP dan Reseller Ilegal Internet Wifi di Batu Bara

“Masalah pasal taik ayam dan tiang listrik itu awal tapi itu seperti diabaikan, dan kami menduga ada oknum yang menikmati dari polemik ini,” ujar seorang warga, Jumat 06 November 2026.

Warga juga mempertanyakan sikap pemerintah desa dalam menyelesaikan persoalan tersebut. Mereka menilai penanganan yang berjalan belum menyentuh akar masalah, bahkan berpotensi membentuk persepsi seolah-olah masyarakat sekitar menjadi penyebab terjadinya polemik.

“Gini aja, masalah sudah jelas, Jalan ditutup, kami menduga Desa kehilangan power untuk menyelesaikan dan menitikberatkan ini akibat warga,” katanya.

Kondisi tersebut membuat warga berharap pemerintah desa tidak membiarkan persoalan bergeser dari masalah utama.

Mereka meminta pemerintah menjalankan tanggung jawabnya untuk memastikan status dan fungsi akses jalan yang selama ini digunakan masyarakat, sekaligus menjelaskan dasar penutupan secara terbuka.

“Itu sudah tanggung jawab pemerintah mempertahankan aset negara, Jalan sudah di bangun dan mempertahankan saja tidak bisa,” lanjut warga tersebut.

Dugaan adanya pihak yang menunggangi polemik maupun upaya memutarbalikkan fakta tersebut menjadi penyebab lambatnya penyelesaian, Karena itu, persoalan ini perlu dijawab melalui penjelasan dan langkah nyata dari pemerintah desa.

Warga berharap penyelesaian tidak justru menjadikan masyarakat sebagai sasaran persoalan, sementara penyebab awal penutupan jalan tidak mendapat perhatian yang semestinya.

Mereka meminta pemerintah desa bersikap terbuka, mengurai duduk perkara, serta mengutamakan penyelesaian berdasarkan fakta di lapangan.

Baca berita lainnya di JurnalLugas.Com

(Bowo)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait