JurnalLugas.Com – Pengelola Hypermart PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) merasakan dampak yang cukup berat sepanjang tahun 2023, dengan keputusan yang mengecewakan bagi para investor mereka.
Meskipun demikian, keputusan untuk tidak membagikan dividen untuk tahun buku 2023 seolah menjadi langkah bijak untuk mengurangi kerugian lebih lanjut.
Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar di Jakarta pada Rabu (8/5/2024) menjadi panggung di mana keputusan tersebut diputuskan secara resmi.
Nilai kerugian bersih setelah pajak yang mencapai Rp255,34 miliar menjadi pemicu utama dibalik keputusan ini.
Meskipun dalam beberapa tahun terakhir MPPA terus meraih kerugian, ada sedikit cahaya di ujung terowongan pada tahun 2023.
Meskipun kerugian masih terjadi, angka tersebut berhasil ditekan menjadi Rp255 miliar, dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang mencapai Rp430 miliar.
Hypermart, sebagai salah satu bisnis utama MPPA, masih menjadi tulang punggung dari pendapatan perusahaan secara keseluruhan.
Namun, angka penjualan MPPA menunjukkan sedikit penurunan sebesar 1,5% yoy, dengan total penjualan mencapai Rp6,91 triliun.
Meskipun ada sedikit perbaikan, laba kotor MPPA pada tahun 2023 masih di bawah angka tahun sebelumnya.
Dengan kerugian operasional mencapai Rp110,93 miliar, dan kerugian sebelum pajak mencapai Rp266 miliar, masih terlihat adanya tantangan yang harus dihadapi perusahaan ini.
Akumulasi kerugian tersebut membuat catatan defisit mencapai angka yang cukup mengkhawatirkan hingga kuartal pertama tahun 2024, mencapai Rp2,72 triliun.
Dengan modal bersih atau ekuitas perusahaan yang tersisa hanya sebesar Rp229 miliar, tantangan untuk mengembalikan keseimbangan keuangan perusahaan menjadi semakin besar.






