JurnalLugas.Com – PT Pertamina (Persero) sedang mengembangkan bahan bakar bioetanol beremisi rendah dengan angka oktan tinggi, yang dikenal sebagai Pertamax Green. Produk ramah lingkungan ini dijual dengan merek Pertamax Green 95, memiliki RON 95, dan dijual seharga Rp13.900 per liter.
Menurut informasi dari situs resmi Pertamina, Pertamax Green 95 saat ini tersedia di 41 SPBU Pertamina di wilayah Jabodetabek, Banten, Bekasi, Malang, dan Surabaya.
Pada Agustus tahun lalu, muncul informasi bahwa Pertamina berencana mengembangkan Pertamax Green 92. Bahan bakar ini diproyeksikan menjadi pengganti Pertalite, dengan RON 92 dan berbahan dasar bioetanol dari tebu sebesar 7% (E7).
Nicke Widyawati, Direktur Utama Pertamina, mengungkapkan dalam rapat bersama Komisi VII DPR RI bahwa Pertamax Green 92 akan dijual dengan harga sekitar Rp10.000 per liter, mirip dengan harga Pertalite saat ini. Menurut Nicke, bahan bakar ini akan menaikkan RON dari 90 menjadi 92 dan didukung oleh mekanisme subsidi dan kompensasi.
Rencana konversi Pertalite ini adalah bagian dari program Langit Biru yang bertujuan mengurangi emisi gas rumah kaca. Dalam tahap pertama program ini, Pertamina telah menggantikan Premium RON 88 dengan Pertalite RON 90.
Apakah Pertamax Green 92 Akan Menggantikan Pertalite?
Menteri BUMN Erick Thohir menyatakan bahwa Pertamina tidak akan menghapus Pertalite pada 2024. Namun, perusahaan migas milik negara ini sedang mengkaji produksi Pertamax Green 92 sebagai bagian dari upaya membuat penggunaan bensin lebih efisien dan ramah lingkungan.
Meskipun belum ada pernyataan resmi dari pemerintah tentang penggantian Pertalite dengan Pertamax Green 92, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menyatakan bahwa pemerintah sedang mempertimbangkan opsi ini. Bioetanol bisa dikembangkan dari berbagai bahan baku seperti jagung, tebu, dan rumput laut.
CEO PT Pertamina New & Renewable Energy (PNRE), John Anis, mengatakan bahwa mereka belum memastikan tingkat RON dari Pertamax Green yang diproduksi dari tebu di Merauke, yang akan menjadi pengganti Pertalite atau Pertamax.
Apakah Pertamax Green 92 Akan Disubsidi?
BPH Migas mengakui adanya wacana untuk memberikan subsidi kepada Pertamax Green 92. Anggota BPH Migas, Saleh Abdurrahman, mengatakan bahwa secara ideal pemerintah harus memberikan subsidi kepada BBM yang lebih berkualitas. Saleh mendukung rencana peralihan subsidi dari Pertalite ke Pertamax Green 92, dengan catatan bahwa pemerintah perlu mempertimbangkan kesiapan infrastruktur, harga, dan ketersediaan bioetanol.
Menurut Saleh, rencana ini adalah langkah yang baik, terutama jika Pertamax Green 92 menjadi BBM khusus penugasan (JBKP) pengganti Pertalite. Namun, ia menekankan pentingnya pertimbangan terhadap infrastruktur, harga, dan sumber bioetanol dalam negeri.






