Lonjakan Kebangkrutan Perusahaan di Jepang Capai Ribuan Ini Kata Tokyo Shoko Research akankah Berimbas ke RI

A man working at an auto repair shop

JurnalLugas.Com – Pada Mei 2024, jumlah kebangkrutan korporasi di Jepang mengalami lonjakan signifikan sebesar 42,9 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, mencapai total 1.009 perusahaan. Data ini diungkapkan oleh perusahaan riset Tokyo Shoko Research.

Kenaikan dramatis ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk pencabutan dukungan pendanaan untuk usaha kecil. Kebijakan tersebut membuat banyak perusahaan kecil kesulitan untuk bertahan, terutama di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu.

Bacaan Lainnya

Selain itu, banyak perusahaan tertekan oleh kenaikan harga barang dan jasa. Mereka juga menghadapi tantangan serius berupa kekurangan tenaga kerja, yang paling dirasakan di sektor jasa. Kekurangan ini memperparah situasi banyak perusahaan, memaksa beberapa dari mereka untuk menutup operasional.

Baca Juga  Resmi Pailit! PT Omni Inovasi Indonesia (TELE) Disuspensi Total oleh BEI, Investor Panik

Lebih rinci lagi, kebangkrutan yang berkaitan dengan kenaikan harga melonjak 47,4 persen menjadi 87 perusahaan. Industri yang paling terdampak oleh tren ini adalah manufaktur dan transportasi, yang memiliki banyak sub-kontraktor. Sub-kontraktor ini sering kali tidak mampu mengelola kenaikan biaya produksi dan operasional, sehingga terpaksa gulung tikar.

Jika dilihat berdasarkan sektor industri, sektor jasa mencatat jumlah kebangkrutan bulanan tertinggi dengan 327 perusahaan yang bangkrut. Khususnya, sektor restoran menghadapi tekanan besar akibat kekurangan tenaga kerja dan kenaikan biaya operasional, yang menyebabkan peningkatan jumlah kebangkrutan.

Kebangkrutan juga meningkat di semua wilayah Jepang, sebuah fenomena yang terjadi untuk pertama kalinya dalam sembilan bulan terakhir.

Baca Juga  GAC-FCA Bangkrut Produsen Jeep di China Gagal Bertahan Meski Suntikan Dana Rp8 Triliun

Tokyo Shoko Research memberikan peringatan bahwa jumlah kebangkrutan yang berkaitan dengan inflasi kemungkinan akan terus meningkat. Banyak perusahaan tidak mampu sepenuhnya menanggung beban kenaikan harga, terutama di tengah melemahnya nilai yen terhadap dolar. Hal ini memperburuk kondisi ekonomi perusahaan-perusahaan tersebut, mengarah pada lebih banyak kebangkrutan di masa mendatang.

Situasi ini menunjukkan betapa rentannya kondisi ekonomi banyak perusahaan di Jepang saat ini, khususnya yang berskala kecil dan menengah, dalam menghadapi dinamika ekonomi global dan domestik.

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait