JurnalLugas.Com – Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menolak untuk menyetujui gencatan senjata permanen dengan kelompok Hamas di Gaza. Netanyahu menginginkan kesepakatan gencatan senjata yang memungkinkan pasukan Israel melanjutkan operasi militer di wilayah Palestina tersebut.
Israel dan Hamas baru-baru ini memulai kembali negosiasi gencatan senjata. Namun, mencapai kesepakatan tampaknya menjadi tantangan besar. Netanyahu menegaskan bahwa usulan yang telah disetujui Israel, dan disambut baik oleh Presiden Amerika Serikat Joe Biden, akan memungkinkan Israel untuk memulangkan sandera tanpa mengorbankan tujuan perang lainnya.
Selain memulangkan sandera, Netanyahu memiliki ambisi besar untuk memberantas Hamas sepenuhnya. Ia sering kali menegaskan bahwa operasi militer di Gaza tidak akan dihentikan sebelum kelompok tersebut benar-benar dikalahkan.
Di sisi lain, Hamas menuntut gencatan senjata permanen dan penarikan penuh pasukan Israel dari Gaza sebagai syarat untuk pemulangan sandera. Tuntutan ini menunjukkan betapa sulitnya mencapai konsensus antara kedua belah pihak yang berkonflik.
Sejak Oktober 2023, sekitar 38 ribu warga Palestina telah tewas akibat operasi militer Israel di Gaza. Serangan udara Israel pada akhir pekan lalu terhadap sebuah gedung sekolah di Gaza menewaskan setidaknya 16 orang.
Operasi militer Israel dipicu oleh serangan besar-besaran Hamas ke wilayah Israel pada 7 Oktober. Serangan ini dianggap sebagai yang terbesar dalam sejarah Hamas, yang semakin memperburuk ketegangan antara kedua pihak.
Dengan kondisi yang terus memanas, upaya untuk mencapai gencatan senjata dan perdamaian di Gaza tampaknya masih jauh dari kenyataan. Israel tetap teguh dengan posisinya untuk melanjutkan operasi militer, sementara Hamas terus menuntut gencatan senjata permanen dan penarikan mundur pasukan Israel.






