JurnalLugas.Com – Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden baru-baru ini memberikan pernyataan yang cukup tajam mengenai JD Vance, menyebutnya sebagai tiruan Perangai dari mantan Presiden Donald Trump. Dalam komentarnya kepada para wartawan pada Senin (15/7/2024), sebelum terbang ke Las Vegas dengan pesawat Air Force One, Biden menyatakan, “Dia adalah tiruan Trump dalam berbagai hal. Saya tidak melihat adanya perbedaan.”
Dalam unggahan terpisah di media sosial, Biden mengkritik Vance lebih lanjut. Ia menuduh bahwa baik Vance maupun Trump berencana menaikkan pajak bagi keluarga kelas menengah, sementara memberikan lebih banyak pemotongan pajak bagi orang kaya. Komentar ini adalah bagian dari strategi kampanye Biden dan timnya setelah Trump mengumumkan pencalonannya pada hari yang sama.
Partai Demokrat berusaha keras menggambarkan Vance, seorang kapitalis ventura, sebagai senator yang tunduk pada Trump dan elit, untuk meredam daya tarik populis yang ia kembangkan selama kariernya di Washington. Vance, 39 tahun, juga menandai pergeseran generasi yang potensial bagi Partai Republik, mengingat usianya yang jauh lebih muda dibanding Trump yang berusia 78 tahun dan Biden yang 81 tahun, presiden tertua dalam sejarah AS.
Senator Demokrat dari Massachusetts, Elizabeth Warren, turut mengomentari kabar pencalonan Vance sebagai wakil presiden. “Pemilihan wakil presiden oleh Trump merupakan kabar baik bagi warga AS yang paling kaya,” ujarnya dalam konferensi pers. “Dengan Trump-Vance, pemotongan Jaminan Sosial dan Medicare akan membebani para manula seperti longsoran salju.”
Ketegangan antara Trump dan mantan Wakil Presiden Mike Pence, yang menolak memblokir sertifikasi kemenangan Pemilu Biden, juga menjadi sorotan. Insiden 6 Januari 2021, di mana pendukung Trump menyerbu Gedung Kongres AS dan meneriakkan “Gantung Mike Pence,” memperburuk hubungan mereka. Episode ini diperkirakan akan dimanfaatkan Partai Demokrat untuk menggambarkan Vance sebagai sosok yang ekstrem, dengan harapan dapat membalikkan keadaan dalam jajak pendapat.
Jennifer O’Malley Dillon, ketua tim kampanye Biden, menuduh bahwa Trump memilih Vance karena ia siap melakukan apa yang tidak dilakukan Pence pada 6 Januari: mendukung Trump dan agenda MAGA-nya yang ekstrem, meskipun harus melanggar hukum dan merugikan rakyat AS. O’Malley Dillon menyatakan bahwa Vance akan menjalankan agenda Proyek 2025 Trump yang bertujuan menempatkan loyalis di badan-badan federal dan menerapkan kebijakan konservatif yang ketat.
Jaime Harrison, Ketua Komite Nasional Partai Demokrat, menegaskan bahwa Vance telah mendukung dan memungkinkan kebijakan terburuk Trump selama bertahun-tahun. “Mari kita perjelas: Pencalonan Trump-Vance akan merusak demokrasi, kebebasan, dan masa depan kita,” ujarnya dalam sebuah pernyataan.
Dengan berbagai pernyataan keras ini, jelas terlihat bahwa kampanye pemilihan presiden mendatang akan dipenuhi dengan ketegangan politik yang tinggi, dengan Partai Demokrat berupaya menggambarkan Vance sebagai perpanjangan tangan Trump, sementara Partai Republik berusaha memanfaatkan popularitas Trump untuk memenangkan pemilihan.






