AS Kirim Kapal Induk Baru ke Timur Tengah, USS Lincoln Sudah 250 Hari Dikerahkan

JurnalLugas.Com — Amerika Serikat mengirim kapal induk lain menuju kawasan Timur Tengah di tengah berlanjutnya ketegangan militer dengan Iran. Pengerahan tersebut dilakukan untuk menggantikan USS Abraham Lincoln yang telah menjalani penugasan panjang di kawasan konflik.

Kapal induk USS George Washington dilaporkan bergerak menuju barat setelah melewati Selat Singapura dan terlihat melintasi Selat Malaka pada Kamis, 13 Agustus 2026. Pergerakan kapal tersebut menjadi perhatian karena George Washington merupakan salah satu kapal induk utama Angkatan Laut AS yang selama ini beroperasi di kawasan Pasifik.

Bacaan Lainnya

Informasi mengenai pergerakan kapal dikonfirmasi seorang pejabat Angkatan Laut AS kepada USNI News. Kapal tersebut disebut sedang melanjutkan pelayaran ke arah barat setelah melewati jalur perairan strategis di Asia Tenggara.

Pengerahan George Washington berlangsung ketika USS Abraham Lincoln disebut telah berada dalam penugasan selama lebih dari 250 hari. Durasi tersebut menempatkan kapal induk itu dalam salah satu periode operasi laut terpanjang di tengah situasi konflik yang belum mereda.

Tekanan terhadap Lincoln tidak hanya berkaitan dengan operasi tempur. Sejumlah laporan juga menyoroti kondisi kehidupan awak kapal selama menjalani penugasan yang panjang.

Persoalan yang disebut muncul mencakup gangguan pasokan kebutuhan dasar, masalah kualitas air, kerusakan atau gangguan sistem perpipaan, persoalan keselamatan di area dek serta layanan surat-menyurat yang tidak berjalan optimal.

Baca Juga  Serangan Iran ke Israel dan Pangkalan AS Dimulai, IRGC Klaim Sasar 27 Titik Strategis

Kondisi psikologis para awak juga menjadi perhatian. Penugasan yang berlangsung berbulan-bulan tanpa waktu istirahat yang memadai di pelabuhan disebut turut memberikan tekanan terhadap kesehatan mental personel yang berada di atas kapal.

Senator AS Richard Blumenthal sebelumnya menyoroti lamanya Lincoln berada di laut. Ia mengatakan kapal induk tersebut telah menjalani sekitar 200 hari tanpa singgah di pelabuhan selama masa penugasan yang diperpanjang.

Durasi tersebut menjadi salah satu gambaran beratnya beban operasi yang harus ditanggung kapal dan para awaknya.

Pengiriman George Washington dapat dibaca sebagai upaya untuk menjaga kesinambungan kekuatan kapal induk AS di kawasan Timur Tengah sekaligus memberikan kesempatan bagi USS Abraham Lincoln untuk keluar dari penugasan panjang.

Namun, pergerakan kapal induk bukan satu-satunya perkembangan yang menunjukkan besarnya tekanan operasi militer AS dalam konflik dengan Iran.

Militer AS juga dilaporkan mengalami kehilangan dalam armada drone MQ-9 Reaper. Sekitar 25 persen dari armada drone tersebut disebut telah hilang selama konflik, berdasarkan laporan yang mengutip tiga pejabat Amerika Serikat.

MQ-9 Reaper merupakan salah satu aset udara tanpa awak yang digunakan militer AS untuk misi pengawasan sekaligus operasi bersenjata. Kehilangan sejumlah besar unit dalam konflik tentu membawa konsekuensi terhadap kemampuan operasi dan biaya penggantian aset.

Nilai satu unit MQ-9 Reaper dapat mencapai sekitar 30 juta hingga 50 juta dolar AS, bergantung pada konfigurasi sensor, sistem pendukung dan persenjataan yang dibawanya.

Dengan jumlah kehilangan yang dilaporkan, total nilai aset yang lenyap diperkirakan telah menembus lebih dari 1,3 miliar dolar AS atau sekitar Rp23 triliun berdasarkan kurs Rp17.882 per dolar AS.

Baca Juga  Trump Klaim Iran Kirim 20 Kapal Minyak, Sinyal Damai atau Sensasi

Angka tersebut menunjukkan bahwa konflik dengan Iran tidak hanya meningkatkan kebutuhan pengerahan personel dan kapal perang, tetapi juga menimbulkan biaya besar akibat kehilangan peralatan militer bernilai tinggi.

Di tengah situasi tersebut, keputusan mengirim USS George Washington ke Timur Tengah memperlihatkan bahwa Washington masih mempertahankan kemampuan proyeksi kekuatan lautnya di kawasan.

Pergerakan kapal induk melalui Selat Malaka juga memiliki arti strategis. Jalur tersebut menjadi salah satu penghubung penting antara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia, sehingga pergerakan kapal perang berukuran besar melalui kawasan Asia Tenggara menjadi bagian dari mobilitas armada AS menuju wilayah operasi.

Bagi USS Abraham Lincoln, pergantian tersebut berpotensi menjadi momentum untuk mengurangi tekanan setelah menjalani penugasan yang sangat panjang.

Sementara bagi militer AS, kehadiran George Washington menjaga agar kekuatan kapal induk tetap tersedia ketika ketegangan di Timur Tengah belum menunjukkan tanda benar-benar berakhir.

Kombinasi antara pengerahan kapal induk, persoalan kondisi awak dan tingginya kehilangan drone menunjukkan besarnya beban yang harus ditanggung militer AS dalam konflik tersebut.

Washington kini harus menjaga keseimbangan antara mempertahankan kekuatan di kawasan dan memastikan kesiapan personel serta peralatan dalam jangka panjang.

Baca berita internasional, pertahanan, geopolitik, dan perkembangan dunia terbaru di JurnalLugas.Com.

(Dahlan)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait