JurnalLugas.Com – PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO) akan mengadakan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Selasa, 3 September 2024. Rapat ini dijadwalkan berlangsung pada pukul 10.00 WIB di Mayapada Tower 2, Jakarta. Pemegang saham yang berhak hadir dalam RUPSLB ini harus tercatat dalam daftar pemegang saham per 9 Agustus 2024 pukul 16.00 WIB.
Satu-satunya agenda dalam RUPSLB MPRO adalah untuk meminta persetujuan atas perubahan penggunaan dana hasil penawaran umum perdana (IPO). Hal ini sesuai dengan informasi yang disampaikan melalui keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin, 12 Agustus 2024.
Manajemen MPRO menjelaskan bahwa rapat ini merujuk pada laporan realisasi penggunaan dana hasil penawaran umum per 30 Juni 2024 yang telah dilaporkan oleh perseroan melalui SPE form E022 pada 15 Juli 2024.
Berdasarkan laporan tersebut, hingga akhir Juni 2024, MPRO masih memiliki sisa dana IPO sebesar Rp5,98 miliar dari total hasil bersih IPO yang mencapai Rp156,34 miliar. Dari jumlah tersebut, MPRO telah merealisasikan penggunaan dana sebesar Rp150,35 miliar sesuai dengan rencana yang tercantum dalam prospektus.
Perincian penggunaan dana IPO meliputi Rp53,38 miliar atau 34 persen untuk Proyek Apartemen Apsara Tower I, Rp74,43 miliar atau 48 persen untuk modal kerja perusahaan, dan Rp22,53 miliar atau 14 persen untuk Proyek Simprug Signature.
Jika dibandingkan dengan rencana awal dalam prospektus, alokasi dana untuk Proyek Apartemen Apsara Tower I adalah 15 persen atau Rp23,45 miliar, modal kerja 5 persen atau Rp7,81 miliar, dan Proyek Simprug Signature sebesar 80 persen atau Rp125,07 miliar.
Sisa dana IPO sebesar Rp5,98 miliar saat ini ditempatkan dalam bentuk giro dan kas. Rinciannya, Rp2,76 miliar disimpan di Giro di Bank Mayapada, Rp3,18 miliar dalam bentuk Giro di beberapa bank lain seperti OCBC, Mandiri, BCA, Niaga, dan Permata, serta Rp38,13 juta disimpan dalam kas perseroan.
Sebagai tambahan informasi, berdasarkan laporan kepemilikan saham MPRO yang mencapai 5 persen atau lebih, Dato Sri Tahir menguasai 21,24 persen atau sekitar 2,11 miliar saham. Anak-anak Dato Sri Tahir, yaitu Jonathan Tahir, memiliki 3,40 miliar atau 34,22 persen saham. Sementara Jane Dewi Tahir, Dewi Victoria Riady, dan Grace Dewi Riady masing-masing memiliki 845 juta saham atau sekitar 8,49 persen.






