Netanyahu Israel Terbuka Gencatan Senjata di Gaza Bebaskan 100 Sandera Zionis Ditahan Hamas

JurnalLugas.Com – Perdana Menteri zionis Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan keterbukaannya terhadap gencatan senjata singkat di Gaza namun zionis masih lakukan kejahatan genosida di bumi Palestina. Langkah ini diharapkan bisa memfasilitasi pembebasan sebagian kecil dari sekitar 100 sandera yang masih ditahan oleh Hamas.

Pernyataan ini disampaikan Netanyahu usai pertemuan antara tim negosiasi Israel dengan pejabat senior Qatar dan Amerika Serikat di Doha, Senin (28/10/2024).

Bacaan Lainnya

Pertemuan tersebut berusaha menghidupkan kembali pembicaraan gencatan senjata yang sempat terhenti setelah Israel menewaskan Yahya Sinwar, salah satu pemimpin Hamas, bulan ini. Dalam diskusi tersebut, proposal dari Mesir kembali dibahas, karena Mesir berperan sebagai mediator penting dalam konflik ini.

Usulan Gencatan Senjata dari Mesir

Presiden Mesir, Abdel-Fattah El-Sisi, mengusulkan gencatan senjata selama dua hari dengan pertukaran empat sandera untuk sejumlah tahanan Palestina yang berada di penjara Israel. El-Sisi menjelaskan bahwa dalam waktu sepuluh hari, negosiasi tambahan akan dilakukan untuk menyelesaikan kesepakatan komprehensif yang mengarah pada gencatan senjata total dan akses bantuan kemanusiaan ke Gaza.

Baca Juga  Trump Pimpin Rapat Gaza di Gedung Putih Libatkan Tony Blair dan Jared Kushner

Netanyahu menyambut baik usulan ini dengan menyatakan di hadapan kabinetnya, “Kami sedang berusaha mencapai kesepakatan untuk pembebasan beberapa sandera dengan imbalan beberapa hari ketenangan.”

Pembahasan Baru di Doha

Kantor perdana menteri Israel mengonfirmasi bahwa dalam pembicaraan di Doha, kedua pihak meninjau kembali proposal lama dan menyesuaikannya dengan kondisi terbaru serta dinamika regional saat ini. Mereka menegaskan bahwa dialog dengan mediator dan Hamas akan terus berlanjut untuk menilai kemungkinan keberhasilan kesepakatan tersebut.

Meski begitu, hingga kini Hamas belum memberikan pernyataan resmi terkait perkembangan terbaru ini.

Harapan dan Tantangan Gencatan Senjata

Jika kesepakatan tercapai, gencatan senjata ini akan menjadi yang pertama dalam konflik antara Israel dan Hamas setelah 11 bulan pertempuran. Sebelumnya, pada akhir November tahun lalu, kesepakatan serupa tercapai dengan pertukaran tahanan, namun pembicaraan selanjutnya gagal, dan Gaza terus mengalami kerusakan hebat. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa situasi di wilayah tersebut kini telah mencapai titik krisis kemanusiaan yang mengkhawatirkan.

Konflik ini bermula pada Oktober tahun lalu ketika Hamas melancarkan serangan ke Israel, menewaskan sekitar 1.200 orang dan menculik 250 lainnya. Saat ini, sekitar 100 sandera masih berada di tangan Hamas, namun Israel memperkirakan bahwa setengah dari mereka mungkin telah tewas. Sementara itu, serangan balasan Israel telah menyebabkan lebih dari 43.000 warga Palestina kehilangan nyawa.

Baca Juga  Zionis Israel Lanjutkan Genosida di Gaza Tewaskan 38 Warga Palestina Termasuk Anak-Anak

Sikap Kedua Pihak

Hamas sebelumnya bersikeras bahwa Israel harus menarik seluruh pasukannya dari Gaza sebagai syarat untuk pembebasan sandera secara bertahap. Namun, Israel menolak tuntutan tersebut dan menegaskan bahwa operasi militer akan terus berlanjut hingga Hamas dilucuti dan dibubarkan.

Seorang pejabat Barat yang terlibat dalam pembicaraan di Doha mengungkapkan bahwa baik AS, Israel, maupun mediator dari negara-negara Arab melihat potensi positif dalam proposal Mesir. Menurut mereka, kesepakatan ini bisa menjadi uji coba untuk melihat apakah Hamas masih bisa mematuhi kesepakatan, meski kepemimpinan mereka di Gaza telah terguncang.

Pembicaraan akan terus berlanjut dalam beberapa hari mendatang dengan harapan tercapainya kesepakatan yang dapat mengurangi ketegangan dan memungkinkan bantuan kemanusiaan masuk ke Gaza.

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait